Coconote
AI notes
AI voice & video notes
Try for free
⛺
Pengalaman Haji 1964 dari Indonesia
Feb 26, 2025
Perjalanan Haji dari Indonesia Tahun 1964
Sarana Transportasi
Menggunakan kapal laut sebagai sarana utama.
Perjalanan bukan hanya fisik, tetapi juga spiritual.
Memakan waktu 2-3 minggu menuju Jeddah tergantung cuaca dan rute pelayaran.
Kedatangan di Jeddah
Jemaah disambut oleh petugas pelabuhan yang berpakaian khas.
Proses pemeriksaan administrasi sebelum turun dari kapal.
Menunggu giliran untuk diangkut dengan bus menuju Mekah.
Suasana di Mekah
Kota Mekah pada tahun 1964 terasa semrawut dan ramai.
Jalan-jalan sempit dengan lalu lintas padat dari mobil, bus, dan truk.
Banyak pedagang kaki lima menjajakan barang seperti kurma, roti, dan pakaian ihrom.
Energi kota yang penuh meskipun tanpa kemudahan modern.
Jemaah merasa bahagia karena sampai di tanah suci.
Makom Ibrahim
Dilindungi oleh bangunan berkubah yang bertumpu pada empat pilar.
Dikelilingi sangkar besi sebagai pelindung.
Jarak antara Makom Ibrahim dan Kabah dekat.
Sumur zam-zam tidak terlihat di permukaan; akses melalui ruang bawah tanah.
Air zam-zam diambil dengan katrol dan ember.
Jemaah Lanjut Usia
Jemaah lanjut usia atau yang sulit berjalan ditandu.
Pemandangan ini biasa terlihat di musim haji saat itu.
Belum ada jalur khusus untuk yang tidak mampu berjalan.
Jalur Sai dan Jamarot
Jalur sai belum dilapisi marmer; belum ada batasan jalur.
Jamarot masih satu lantai tanpa struktur bertingkat.
Lempar jumroh di area terbuka dengan tiga pilar batu.
Kerumunan jemaah tanpa pagar pembatas, sering bercampur.
Tawaf Wadah
Dilakukan sebagai perpisahan dengan Baitullah.
Mengelilingi Kabah sebanyak tujuh kali tanpa sai.
Jemaah dianjurkan berdoa sebelum kembali ke negara masing-masing.
Suasana di Madinah
Masjid Nabawi telah mengalami renovasi, tetapi masih kecil dan tenang.
Memiliki luas sekitar 16.327 m², kapasitas 50.000 jemaah.
Saat ini, luasnya mencapai 400.500 m², peningkatan 2.353 persen.
📄
Full transcript