Terima kasih. Setelah 54 tahun di bawah kekuasaan keluarga Al-Assad, Suriah akhirnya menyaksikan akhir dari salah satu rezim paling otoriter dalam sejarah modern Timur Tengah. Pada tanggal 8 Desember, Bashar Al-Assad meninggalkan negaranya untuk mencari suaka di Rusia. Sebuah peristiwa yang memicu gelombang kegembiraan di seluruh Suriah. Dari Damascus hingga Homs, warga Suriah tumpah ruah ke jalan.
Menderiakan slogan anti-rezim, merobohkan patung-patung hafaz, dan merayakan kemenangan yang terasa seperti mimpi setelah lebih dari satu dekade penuh penderitaan. Namun, dibalik perayaan tersebut, perjalanan menuju momen ini diwarnai oleh perang saudara yang brutal dan panjang. Dimulai pada tahun 2011, konflik ini telah merenggut lebih dari 350 ribu nyawa, memaksa 13 juta orang untuk mengungsi dan meninggalkan luka mendalam yang sulit disembuhkan.
Pada awal 2011, musim semi-Arab mengguncang dunia Arab dengan gelombang harapan dan protes rakyat yang menuntut kebebasan, keadilan, dan penghentian korupsi di negara-negara seperti Tunisia, Mesir, dan Libya. Inspirasi ini merembas hingga ke Suria, dimana rakyat yang lama tertekan di bawah rezim otoriter Basar al-Assad. mulai menyuarakan ketidakpuasan mereka.
Protes damai yang dimulai di Darul sebagai respon terhadap penangkapan dan penyiksaan anak-anak oleh aparat pemerintah segera meluas ke seluruh negeri. Tuntutan utama mereka meliputi reformasi politik, penghormatan terhadap hak asasi manusia, dan pebubaran struktur korup yang menopang rezim al-Assad. Namun, harapan rakyat itu disambut dengan kekerasan brutal. Pasukan Keamanan Rezim tidak hanya...
yang menembaki demon seran damai, tetapi juga melakukan penyiksaan masal, penahanan selwenang-wenang, dan pembunuhan terhadap mereka yang dianggap sebagai ancaman. Alih-alih meredakan situasi melalui dialog, respon keras asat, memperburu keadaan. Protes yang awalnya damai, berubah menjadi pemberontakan bersenjata, dan Suria segera jatuh ke dalam perang saudara yang kejam. Dalam konflik ini, berbagai kekuatan domen yang terjadi, domestik dan internasional saling bertempur, menjadikan Syria sebagai arena perang geopolitik.
Wilayah Syria pun terpecah-pecah. Di bagian utara, dikuasai milisi yang didukung Turki, termasuk tentara nasional Syria. Daerah ini juga menjadi tempat perlindungan bagi lebih dari 3 juta pengungsi Syria.
Di timur, didominasi oleh pasukan demokratik Syria yang dipimpin milisi Kurdi. SDF juga mendapat dukungan dari Amerika Serikat dalam perang melawan ISIS. Di bagian Tenggara, sisa-sisa kelompok teroris ISIS masih aktif meski pengaruh mereka telah melemah sejak 2019. Selain itu ada HAA Tahrir Al-Sham atau HTS dan kelompok pemberontak sekutu lainnya. HTS merupakan bentuk terbaru dari Front al-Nusraq yang telah berjanji setia kepada Al-Qaeda hingga memutuskan hubungan tersebut pada tahun 2016. Sedangkan, Selatan dan Barat berada di bawah kendati rezim al-Sad dengan dukungan militer dari Iran dan Rusia. Dukungan kekuatan asing membuat konflik ini semakin rumit.
Serangan udara, penggunaan senjata kimia, dan blokade kemanusiaan menjadi pemandangan yang lumrah. Kota-kota besar seperti Aleppo dan Homs telah hancur, meninggalkan runtuhan yang menyedihkan. Krisis ini juga berdampak pada generasi muda suria, ribuan anak kehilangan pendidikan, akses kesehatan, dan masa depan.
Mereka yang lahir selama perang, tumbuh dalam kondisi trauma, dengan sedikit harapan untuk kehidupan yang normal. selama konflik suriah yang berkepanjangan. Ketika perang Ketika saudara meletus pada 2011, kekuatan oposisi semakin mendesak posisi ASA dan tekanan internasional terhadap rezimnya terus meningkat. Dalam situasi yang hampir mustahil bagi Assad untuk bertahan, Iran dan Rusia muncul sebagai penopang utama kekuasaannya, memberikan dukungan yang sangat diputuhkan di medan perang dan panggung diplomatik.
Iran melihat Syria bukan sekedar sekutu biasa, melainkan bagian vital dari strateginya untuk memperluas pengaruh di Timur Tengah. Melalui jaringan milisi Syiah yang dipimpin Hezbollah, Iran memberikan dukungan militer langsung dari pasokan senjata hingga pengerahan pasukan di garis depan. Ribuan pejuang milisi Syia dari Irak, Afganistan, dan Lebanon turut dikerahkan ke Suriyah untuk membantu Assad merebut kembali wilayah-wilayah yang hilang.
Bagi Iran, mempertahankan rezim Assad berarti menjaga jalur darat strategis yang menghubungkan Iran ke Lebanon, sekaligus memastikan pengaruhnya di kawasan tetap utuh. Di sisi lain, Rusia memainkan perannya dengan pendekatan yang berbeda, namun sama pentingnya. Pada 2015, ketika situasi Assad berada di ujung tanduk, Rusia meluncurkan operasi militarnya di Syria.
Serangan udara besar-besaran yang dilakukan Rusia tidak hanya menghantam posisi oposisi, tetapi juga memukul mundur kelompok-kelompok ekstrimis seperti ISIS. Kehadiran militer Rusia, terutama di pangkalan udara Menin dan pelabuhan Tartus, menjadi simbol kekuatan geopolitik Moskow. Bagi Rusia, mempertahankan rezim ASA tidak hanya soal menjaga sekutu, tetapi juga mempertahankan pengaruhnya di kawasan Timur Tengah yang strategis.
Melalui keterlibatan ini, Rusia menunjukkan kepada dunia bahwa ia adalah pemain global yang tidak bisa diabaikan. Namun meskipun dukungan Iran dan Rusia telah memberikan asat keunggulan di Medan Pernah, dinamika geopolitik yang berkembang belakangan ini mulai mempengaruhi tingkat komitmen mereka. Ketika perang di Ukraina meletus pada 2022, Rusia mulai memfokuskan sebagian besar sumber dayanya ke konflik tersebut.
Serangan terhadap infrastruktur militer Ukraina dan sanksi internasional yang melumpuhkan ekonomi Rusia membuat Moskow terpaksa mengurangi intensitas operasinya di Syria. Pada saat yang sama, Iran juga menghadapi tekanan yang meningkat, baik dari dalam negeri akibat protes besar-besaran, maupun dari luar negeri karena keterlibatannya dalam konflik lain, termasuk mendukung Hamas dalam perang yang melibatkan. Israel.
Dengan kedua sekutu utama Assad yang mulai terganggu oleh masalah masing-masing, dukungan terhadap Rezin di Damascus semakin menipis. Situasi ini menciptakan celah bagi oposisi untuk kembali meningkatkan kemampuan di dalam perjuangan. diperhatikan tekanan di beberapa wilayah. Meski Assad tetap berkuasa, tantangan untuk mempertahankan kontrol penuh atas Syria kini semakin besar.
Tanpa dukungan penuh dari Iran dan Rusia, seperti sebelumnya, bahasa depan rezim Assad menjadi semakin tidak pasti. Semakin melemahnya rezim asat, dimanfaatkan penjual oposisi untuk mulai melancarkan serangan. Pada tanggal 27 November, sebuah perubahan dramatis dalam sejarah suriah dimulai.
Kekuatan oposisi yang sebelumnya terpecah-pecah, akhirnya bersatu di bawah tekanan bersama untuk menggulingkan rezim. Dukungan dari Turki memainkan peran penting, baik dalam bentuk logistik, pelatihan, maupun persenjataan canggih. Hal ini memberi oposisi keunggulan taktis yang selama ini sulit mereka capai.
Serangan pertama dimulai di garis depan antara Idlib yang merupakan kantong terakhir oposisi dan Provinsi Aleppo yang dikendalikan oleh pasukan pemerintah. Dalam tiga hari, pasukan oposisi merebut Aleppo, kota terbesar kedua di Syria, yang selama ini menjadi simbol kekuatan rezim Assad. Kemenangan ini memberi mereka dorongan besar dalam konflik yang telah berlangsung hampir satu dekade.
Serangan ini tidak hanya terfokus pada Aleppo, tetapi berlanjut dengan cepat menuju ibu kota Damascus. Dalam beberapa hari saja, oposisi berhasil mendekati gerbang kota, memaksa banyak orang. masukan pro-pemerintah untuk mundur. Keberhasilan ini bukan kebetulan, tetapi hasil dari serangkaian faktor yang mengarah pada ketidakstabilan internal yang mempengaruhi rezim azan.
Salah satu faktor terbesar adalah keruntuhan ekonomi Suria telah berada di ujung tanduk selama bertahun-tahun akibat perengsaudara yang berkepanjangan, sanksi internasional, dan mismanagement kronis. Mata uang Suria, bom Suria, bahkan kehilangan sebagian besar nilainya menyebabkan inflasi yang melumpuhkan. Harga kebutuhan pokok melunjak tajam, membuat rakyat semakin sulit bertahan hidup. Di tengah ketegangan ini, moral pasokan pemerintah juga mulai merosot.
Banyak tentara dan polisi yang sebelumnya setia kepada rezim mulai meninggalkan pos-pos mereka. Beberapa dari mereka memilih untuk menyerahkan senjata dan melarikan diri. Sementara yang lain mengalihkan kesetiaan mereka kepada oposisi yang mereka anggap sebagai pilihan yang lebih realistis untuk masa depan negara. Keruntuhan ini menjadi simbol dari ketidakmampuan rezim Assad untuk mempertahankan struktur kekuasaan yang selama ini telah dibangun dengan tangan besi. Puncaknya pada tanggal 8 Desember 2024, Basar al-Assad yang telah lama dianggap sebagai simbol kekuatan rezim.
Rezin akhirnya meninggalkan Mesuria. Dalam waktu hanya 12 hari yang penuh gujola, salah satu Rezin paling brutal di Timur Tengah runtuh begitu saja dan menciptakan kekosongan kekuasaan. Meski jatuhnya rezim asad dirayakan sebagai kemenangan besar, banyak warga Suriah yang tidak bisa sepenuhnya tenang.
Kekosongan pemerintahan menimbulkan pertanyaan besar tentang masa depan negara tersebut. Bisakah Suriah kembali menjadi negara normal? Apakah rakyat Suria akhirnya memiliki kesempatan untuk membangun pemerintahan yang demokratis? Ataukah Suria akan kembali jatuh ke dalam siklus kekerasan yang sama hanya dengan wajah pemerintahan yang berbeda?
Skenario terburuk yang ditakutkan banyak orang adalah keterlibatan asing yang berlebihan. Dengan banyaknya kepentingan internasional di Suria, ada risiko bahwa negara tersebut akan menjadi ajem perbutan kekuasaan baru. seperti yang terjadi di Irak dan Libya.
Namun, harapan tetap ada. Banyak warga Syria yang percaya bahwa masa depan lebih baik bisa tercapai jika rakyat diberikan kebebasan untuk menentukan nasib mereka sendiri tanpa campur tangan asing.