Ya bahkan ya binatang bisa main dengan binatang kan Sama kayak binatang? Iya Makanya pribumi dan anjing dilarang masuk. Ya karena...
Itu memang beneran ada ya? Ada, ada. Memang ada aturannya seperti itu. Segitu kayanya kita zaman itu ya? Belanda tuh sempat jadi negara adidaya, negara terkaya di dunia ketika mereka menjajah Nusantara.
VUC dari Freemason? VUC itu didikan Freemason. Itu beneran. Jadi bukan teori konspirasi yang tidak ada buktinya, itu memang terbukti.
79 tahun kita merdeka. Nah pertanyaannya, apakah hari ini kita benar-benar udah merdeka? DMJ kembali lagi guys. Buat kalian yang suka segmen ini, boleh banget komen di bawah.
Nah karena temanya kemerdekaan, kita kedatang. dengan Arsum Legend, Kang Guru. Halo, Kang.
Kita legend, ya. Udah lama nih nge-segment bareng, ya. Iya.
Kenapa nggak pernah ke sana, nggak pernah ke rumah? Padahal nggak akan saya tungguin. Langsung aja kali.
ini kita Kang ya. Ayo. Nah kemarin kan sempat pro kontra ya di sosial media tentang sebetulnya bener gak sih Belanda itu menjajah kita 350 tahun. Enggak. Enggak bener.
Enggak ada hitungan yang seperti itu. Jadi istilah 350 tahun itu sebenarnya diambil dari 3,5 abad. Bukan 350 tahun. Dan 3,5 abad yang dimaksud itu adalah pidato Bung Karno.
Jadi pada waktu itu Bung Karno menyemangati masyarakat Indonesia, rakyat Indonesia untuk segera bebas. Dan karena itu maka disebutkan 350 tahun, eh 3,5 abad. Untuk apa? Yang pertama menegaskan bahwa sejak 3,5 abad yang lalu Indonesia memang sudah ada.
Itu penegasan politis sebenarnya. Karena sebelumnya kan gak ada negara Indonesia tuh. Tapi dengan adanya kita dijajah 3,5 abad artinya kita sudah ada 3,5 abad yang lalu. Jadi ini sebenarnya adalah mengambil romantisme untuk mengangkat perjuangan mentalitas perjuangan bangsa Indonesia.
Itu yang pertama. Kemudian yang kedua, 3,5 abad yang kemudian diterjemahkan 350 tahun itu sebagai penegas bahwa kita itu selama dalam kurun waktu itu hidup dalam penderitaan yang sangat. Karena kita hidup dalam penjajahan.
Penjajahan bangsa Belanda. Dan karena itu kita harus melakukan perlawanan. Sebenarnya tidak ada hitungannya dari situ. Soekarno mengambil hitungan itu dari kedatangan Cornelis de Houtman untuk pertama kalinya ke Banten tahun 1596. Nah jadi kalau 1596 dimasukin ke tahun 1945 berapa tahun tuh?
340 berapa? 340 sekian tahun lah. Segitu ya? Segitu lah.
Dibuletin jadi 350 tahun karena 3,5 abad itu. Nah tapi kan Cornelis de Houtman ketika dia pertama kali datang ke Banten, Pertama, tidak membawa ekspedisi militer. Dia hanya ingin berdagang. Walaupun si orang itu tuh emang petantang-petantang banget.
Itu orangnya nggak bener lah. Karakteristiknya emang sombong, songongnya luar biasa. Makanya di Banten dia dihajar, terus dia kabur ke Belanda, nangis-nangis, balik lagi ke Nusantara, tapi nggak berani ke Banten. Datangnya ke Aceh.
Ya di Aceh itu dia duel satu lawan satu, ngelawan... Jenderal CW, Laksamana CW, Laksamana Malahayati, ya darahnya abis, dipakai rencong. Dihabisi pada saat itu? Dihabisi pada waktu itu. Nah itu kan sebenarnya jelas bukan penjajahan, dia datang untuk berdagang cuma songong.
Nah karena itu dia datang kemanapun dia ada di wilayah Nusantara ya akhirnya di ini gitu. Jadi waktu ke Banten itu 200 orang kan dari tentaranya itu langsung hilang. Langsung nyawanya hilang gitu.
Padahal dia cuma bawa 250, 200 diantaranya hilang nyawanya. Sisanya dia compang-camping balik lagi ke Belanda tuh. Oke berarti orang Belanda pertama yang datang ke Nusantara itu bisa dibilang Cornelis de Houtman. Iya, iya. Nah kan dia balik ke Belanda tuh, berarti dia bawa info kali ya, bahwa ini ada rempah-rempah bagus nih disini gitu.
Sebenarnya nggak juga, jadi dia bawa informasi memang, tapi bawa informasi tentang rempah-rempah itu nggak, karena justru Belanda dapatnya dari Portugis. Jadi sebelum Cornelis de Houtman, itu ada orang-orang Portugis datang ke Nusantara, jadi sekitar 80 tahunan sebelumnya, tahun 1511, itu datang. Dia di bawah Alfonso de Albuquerque datang ke Nusantara. Nah, cuma datangnya itu menjelajah dari pantai ke pantai.
Jadi kalau dari Eropa nih, harusnya ada peta nih. Dari Eropa itu nggak pernah berani jauh dari pantai. Jadi menyusur pantai Afrika, Afrika Barat sampai ke selatan. Nah, di selatan itu dia menemukan peta Indonesia, peta Nusantara. Dan ketemu sama pelaut-pelaut Nusantara di sana.
Karena orang-orang Nusantara sudah ada dan berdagang di wilayah Madagaskar, di wilayah Afrika Selatan. Itu mereka kontaknya sudah intensif. Nah, orang Portugis, orang Eropa pada waktu itu kemampuan melautnya masih belum baik. Bahkan ada kemungkinan Alfonso de Albuquerque mengambil orang Nusantara yang ada di Afrika Selatan untuk jadi penunjuk arah.
Ada kemungkinan gitu ya, tapi... Gak terkonfirmasi. Nah dari Alfonso itu langsung ke pantai timur Afrika.
Kemudian ke timur tengah masuk ke India. Nah di India baru bikin markas yang besar. Kemudian mencoba untuk menaklukkan wilayah Nusantara tahun 1511. Nah petanya, peta Portugis itu. Itu kemudian disalin oleh ada anak buah kapal Portugis yang adalah orang Belanda. Siapa namanya?
Saya lupa namanya Ditemukan Ini koordinatnya apa segala rupanya Terus balik ke Belanda Ini jalur Ke wilayah paling kaya di dunia kalau misalkan kita bisa nemu ini kita bener-bener bisa mengalahkan Spanyol karena pada waktu Belanda itu masih di bawah jajahan Spanyol jadi Belanda datang ke Nusantara dalam kondisi dianya terjajah bukan mau menjajah dia terjajah nah makanya pas penelusuran selanjutnya Cornelius de Houtman itu ketika sudah menemukan navigasinya sudah menemukan titik koordinatnya dari Afrika Selatan Dia tuh bukan mengikuti pantai-pantai di sepanjang Asia dan Afrika, tapi bablas langsung tembus ke wilayah Nusantara. Awalnya nyangkut dulu di Australia, tapi langsung ke Banten, ke utara gitu. Nah, jadi...
Belanda justru taunya itu dari Portugis. Oke, ini ngomong-ngomong soal Banten ya, Kang. Kan waktu itu pecah perang juga lawan VOC ya, dimana Sultan Ageng Tirtayasa melawan Sultan Haji, anaknya. yang dibantu VOC saat itu ya. Kalau menurut Akang, ada politik adu domba nggak saat itu?
Sebenarnya itu rangkaian perisiwanya masih jauh ya, dari Cornelis de Houtman sampai ke Sultan Ageng Tirta Yasa itu, Sultan Ageng Tirta Yasa itu tahun berapa ya? 1633-an. Kalau ada koreksi ya, 1633-an.
Ini saya nggak dikasih tahu sebelumnya temanya apa. Tapi 1533 kurang lebihnya. Nah, itu VOC itu...
sudah menguasai wilayah Banten dengan cara politik adu domba. Sebenarnya politik adu domba itu adalah istilah Belanda dan istilah Indonesia belakangan. Tetapi itu sebenarnya masuk akal gitu.
Jadi tidak benar-benar inisiatif dari Belanda asli, tetapi memang bangsa pribuminya pada waktu itu memang sudah terpecah belah pada waktu itu. Jadi Sultan Haji itu dalam pikiran yang paling sederhananya ini kapan saya naik tahta bapak saya nggak mati-mati gitu. Gitu lah pengen pengen. pengen berkuasa gitu ya, pengen berkuasa kemudian ada banyak kebijakan-kebijakan yang tidak sesuai dan akhirnya terjadi bentrokan antara ayah dengan anaknya nah Belanda masuk ke situ karena Belanda tidak memiliki sumber daya memadai untuk berperang dengan orang-orang Nusantara mereka gak akan kuat untuk berantem satu lawan satu jadi mereka harus infiltrasi nyari siapa yang paling mungkin mereka dukung, kemudian nanti ketika berperang, Sultan Hajinya ya berperang Orangnya melawan ayahnya itu pakai tentara mereka juga gitu. Kalau Belanda mempunyai ngaci 100-200 pucuk senjata udah gak.
Dan Sultan Agung juga pada waktu itu sudah punya kontakan dengan negara-negara Eropa yang lain. Sudah punya Bedil juga, sudah punya Meriam juga sebenarnya pada waktu itu. Nah cuman Belanda ya oportunis aja nyari mana yang paling mungkin untuk berkuasa. Kemudian dia bikin Kongkalikong di situ. Kemudian menjanjikan investasi-investasi dan lain sebagainya.
dan akhirnya memang benar. Belanda dalam hal itu prediksi dan proyeksinya benar. Yang menang itu adalah Sultan Haji. Makanya dia gabungnya dengan Sultan Haji.
Sultan Ageng Tritayasa kan disebut nggak suka nih dengan monopoli perdagangan yang dilakuin VOC gitu ya. Sebetulnya monopoli perdagangan itu kayak apa sih yang dimaksud gitu? Jadi sebenarnya tuh, jadi gini, si Belanda itu harus kita garis bawahi dia dalam kondisi dijajah. sama Spanyol, dan kepepet luar biasa. Bahkan, kenapa misalkan mereka harus bikin yang namanya VOC?
Karena Belanda nggak sanggup untuk membiayai perdagangan ke Nusantara. Jadi pada waktu itu, ini hitungannya ya, pada waktu itu, Belanda nih lagi berperang lawan Spanyol. Terus, ada berita bahwa kalau kita bisa menguasai jalur rempah-rempah, maka uang kita jadi banyak. dan bisa menaklukkan Spanyol. Gitu kan?
Pertimbangannya adalah, nah si Belanda pada waktu itu dalam pikiran yang kalut. Kalau saya modalin penjelajah-penjelajah itu, nanti saya nggak punya uang cukup untuk berperang lawan Spanyol. Tapi kalau saya tidak membiayai pedagang-pedagang itu, saya juga tetap akan dikalahkan Spanyol karena saya nggak punya duit. Gitu kan? Sebagai Raja Belanda coba milih mana?
Mau milih investasi untuk dapat rempah-rempah? dengan peluang 50-50, tapi duitnya berarti habis, tarik ke sana, atau misalkan kita biayai saja. Nah, karena 50-50 itu, dan bingung, akhirnya ada jalan tengah. VOC datang, yaudah gini, VOC itu dari ini ya, dari...
dari Freemason itu beneran itu, jadi bukan teori konspirasi itu beneran memang VOC itu didikan Freemason itu beneran, jadi bukan teori konspirasi yang tidak ada buktinya itu memang terbukti si Freemason Si Freemason itu, yaudah ayo kita bikin namanya VOC. Kemudian setorkan kepada Belanda sebuah proposal. Gini aja lah, Anda pengen duitnya, tapi nggak mau ngemodalinnya.
Bener kan? Bener. Yaudah gini saja, kami mendirikan yang namanya VOC.
Kemudian di sana izinkan kami untuk mendirikan pemerintahan otonom. Bahwa kami boleh nyetak duit sendiri, bahwa kami boleh punya tentara sendiri, bahwa kami boleh bikin benteng sendiri, bahkan kami boleh bikin perjanjian dan perang dengan orang-orang di sana. Jadi sudah jadi sebuah negara.
Ini kan hak-hak sebuah negara semuanya dimiliki sama VOC, yang namanya Oktroy itu. Jadi hak Oktroy itu adalah kompensasi karena Belanda tidak sanggup untuk membiayai pelajar. pelayar-pelayar mereka untuk datang ke Nusantara karena mereka sedang dirundung perang hebat di Eropa.
Nah, jadi VOC datang. Nah, VOC gimana caranya biar dia bisa bayar ke Belanda dan dia dipercaya dan dia jadi perusahaan yang kaya. Namanya juga perusahaan cari untung kan. Nah, akhirnya dia pikir kita harus memonopoli perdagangan karena itu satu-satunya jalan agar mereka itu bisa eksis dan bisa menyelamatkan Belanda dari serangan Spanyol. Jadi akhirnya Belanda bisa memerdekakan diri itu duitnya dari Nusantara.
Jadi bukan Indonesia dimerdekakan oleh Belanda. Ada kan cerita gitu kan, yang sebenarnya adalah Belanda dimerdekakan dari duit-duit yang diambil dari Indonesia. Segitu kayanya kita zaman itu ya?
Belanda tuh sempat jadi negara adidaya, negara terkaya di dunia ketika mereka menjajah Nusantara. Wow. Sebelum, kan ceritanya tuh gini, kan Amerika Serikat sekarang adidaya ya, sebelum Amerika Serikat kan Inggris. Nah sebelum Inggris tuh Belanda.
Saya baru denger nih malah nih. Cek aja, misalkan itu harta kekayaan Belanda itu memang signifikan. Dan VOC pada waktu itu adalah perusahaan terkaya di seluruh dunia. Lebih kaya daripada perusahaan manapun dalam sejarah. Lebih dari Apple, lebih dari...
Aramco lebih dari Tesla segala rupanya jauh lebih kaya. Tapi VOC kan disebut-sebut beda dengan Belanda gitu ya. Beda. Tapi apa bisa dibilang itu sudah termasuk perwakilan Belanda yang menjajah kita. Enggak.
Itu kan hanya bagian-bagian. Makanya mereka bilang datang ke Indonesia itu, saya punya otonomi sebagai negara sendiri. Kan hak uptroy itu hak untuk mengaku, mengklaim sebagai negara sendiri.
Ya kan hak untuk bikin tentara sendiri itu nggak mungkin dimiliki kecuali oleh negara. Hak untuk mencetak uang sendiri itu hak yang dimiliki oleh sebuah negara. Makanya Indonesia itu sekarang kenal dengan beberapa istilah-istilah, diantaranya adalah duit.
Nah, duit tuh mata uang VOC. Jadi, Belanda dulu mata uangnya holding. Nah, kalau VOC tuh mata uangnya duit.
Duit tuh diambil dari Dutchland. Dari mata uang sana. Jadi, kita tuh orang Belanda. Nah, kenapa ada mata uang duit itu? Ya, karena VOC.
VOC yang menjajah, yang mencoba menjajah Nusantara pada waktu itu, bukan Belanda. Kalau Belanda ya golden duitnya. Cuman VOC-nya pada akhirnya juga kan digulingkan oleh ketamakan mereka sendiri kan korupsinya itu. Ini kalau bicara Banten jadi inget leluhur saya. Oh orang Banten ya?
Orang Banten. Coba ditusuk-tusuk aja. Nah, akhirnya perang besar terjadi ya, dimana Sultan Ageng Tirta Yasa kalah, lalu dipenjara di Batavia.
Nah kita pindah sedikit nih gang Dari Banten ke Jawa Dimana disebut perang antara Mataram dengan Belanda Adalah salah satu perang terbesar Sepanjang sejarah Indonesia Kalau menurut Akang itu bagaimana? Itu perang Jawa yang dimaksud itu yang mana? Kalau perang yang di Jawa itu...
Mataram. Oh yang Mataram. Yang Mataram itu berarti yang tahun 1855. Atau yang 1755. Yang 1755. Kan perang Jawa itu 1755 sama perang di Penogoro 1825. Nah yang 1755 itu, jadi sama aja.
Jadi si VOC itu berusaha untuk, jadi gini nih. Sebenarnya penjajahan yang ingin dilakukan Belanda atau VOC pada waktu itu cuma dua. Jawa sama Maluku.
Gak ada yang lain. Kalimantan tuh Belanda belum minat. Sumatera tuh Belanda belum minat pada waktu itu.
Jadi yang diminatnya tuh cuma dua. Nanti setelah setelah ada tahun 1816 baru Belanda berminat wilayah-wilayah yang di sekitarnya. Tapi karena Belanda itu cuma minat Jawa sama minat Maluku saja, maka wilayah yang menghubungkan antara Maluku dengan Jawa itu harus dikuasai.
Makanya nanti juga Perang Makassar dengan Hasanuddin. Jadi dia dengan Sultan Hasanuddin. Tapi tahun Belanda itu basicnya untuk merekrut orang, untuk dapat sumber makanan, dan lain sebagainya, itu Jawa. Makanya Jawa itu harus dikuasai.
Nah, karena Jawa itu harus dikuasai, maka mereka itu memang menaklukkan, berupaya untuk menaklukkan. Tapi penaklukkan itu agak... Agak susah. Jadi ini dimulai dari tahun 1600. Tahun 1600 ketika VOC itu baru aja beres dengan Banten itu muncul serangan dari Sultan Agung.
Serang. Bahkan Mataram langsung nyerang kan? Nyerang. Batavia dua kali. Dua kali.
Cuman kalah dua-duanya. Nah kalah dua-duanya akhirnya Belanda sejak saat itu tuh ngincer anak-anak Sultan Agung untuk untuk diajak ngobrol, diajak ngopi. Nah, sejak diajak ngopi itu, nanti ada amangkurat, mulai dekat dengan Belanda, kemudian apa.
Bahkan pada waktu itu tuh, ada semacam propaganda dari orang Belanda, bahwa Sultan-Sultan Mataram itu sebenarnya memiliki hubungan kekerabatan dengan Belanda. Ada upaya ke arah sana sehingga nanti Mataram itu benar-benar bisa ditundukkan. Dan walaupun mereka di depan rakyatnya masih mengaku sebagai raja, tetapi mereka ketergantungan. Jadi misalkan setiap ada pemberontakan di Jawa misalkan, nah si Belanda itu langsung, Pak saya kasih pinjam uang atau saya kasih senjata mau nggak?
Jadi Belanda bikin rusuh. di suatu daerah. Berontak kan?
Berontaknya bukan sama Belanda, tapi sama penguasanya. Jadi misalkan kalau di Indonesia ada investor, misalkan dari Ethiopia, bikin rusuh di sini. Kan yang di demo itu adalah presiden kita, bukan ini. Nah, jadi Belanda itu bikin rusuh dikit-dikit.
Nanti pemberontakan berhaja lela. Pemberontakan berhaja lela, si rajanya bingung. Aduh, gimana nih? Nah, saya kasih pak senjata, mau nggak?
Jadi terus-menerus disuapin, sampai akhirnya... Pemerintah di Mataram itu memiliki ketergantungan yang akut terhadap Belanda. Setelah itu barulah tahun 1755 itu, langsung Belanda memiliki kekuatan yang cukup untuk memecah Mataram. Jadi empat, jadi dua terus jadi empat seperti yang kita kenal sekarang diantaranya adalah Yogyakarta. Yogyakarta itu kan satu diantara empat pecahan Mataram pada waktu itu.
Kenapa bisa pecah kayak gitu? Ya karena setiap raja-raja di sekolah, Di sana memiliki interes kepentingan yang berbeda dengan Belanda. Disuapin sama Belandanya dalam tanda kutip juga berbeda. Intensitasnya juga apa-apa berbeda. Tapi dipecahnya itu sebenarnya adalah kemenangan buat Belanda.
Karena negara... negara terbesar di Jawa pada waktu itu sudah tidak lagi memiliki kekuatan penuh. Mataram itu kalau disatukan itu kekuatan tempurnya itu jauh lebih besar daripada Belanda. Sekali lagi ya di zaman VOC itu Belanda atau VOC tidak memiliki kesempatan untuk menang perang dengan kerajaan manapun di Nusantara kalau one by one.
Jadi mereka hanya punya kesempatan kalau mereka ngajak ngopi, ngobrol, ngasih senjata, ngasih duit, ngasih budak dari sana, bawa kuda dipersembahkan kepada raja, sedikit demi sedikit. Karena salah satu komunikasi politik yang sangat berbeda antara Belanda dengan Nusantara itu adalah... Kan orang Nusantara pada waktu itu tuh menganggap bahwa diri mereka tuh dewa.
Raja-rajanya gitu ya. Atau setengah dewa. Konsep dewa raja itu. Jadi ketika ada yang memberontak, mereka menganggap bahwa kehormatan dirinya sebagai dewa dijatuhkan. Mereka akan nyari orang yang mau memberikan penghormatan pada dirinya.
Nah Belanda itu jago banget ngejilatnya tuh. Awal-awalnya gitu ya. Setelah mereka berkuasa ya mereka yang pengen dijilat.
Nyamun tadi ya, Kang, dengan kekuatan kerajaan-kerajaan di Nusantara atau khususnya di Jawa. Walau Sultan Agung saat itu kalah dua kali, tapi kan VOC dampak kerugiannya besar banget. Bahkan Jan Peter Zunkun aja meninggal walau kena penyakit pada saat itu. Sebetulnya kapan sih Jawa itu benar-benar ditaklukan oleh VOC atau Belanda?
Peter Kun mati karena... Itu gara-gara penyakit memang. Tapi kemungkinan penyakitnya itu gara-gara senjata biologisnya orang Jawa. Jadi orang Jawa itu pakai senjata biologis.
Jadi sungai-sungai yang memasuki benteng VOC itu, itu dimasukin bangke-bangke itu. Kuda, bangke orang, segala rupanya biar bakterinya masuk ke sana semua. Jadi pada waktu itu masalah utama dari kekalahan Mataram itu adalah karena mereka yang nyerang. Jadi perjalanannya itu jauh.
Kemudian lumbung pangannya juga habis gitu kan dan sebagainya. Jadi sebenarnya masalahnya adalah masalah logistik sebenarnya bukan masalah perangnya. Tapi Jawa kapan ditaklukkan?
Bisa dibilang Jawa benar-benar takluk itu setelah perang di Ponegoro. Karena itu benar-benar perang yang bikin trauma orang-orang Jawa maupun orang-orang Belanda. Pada waktu itu tuh sekitar 200-250 ribu orang meninggal.
Yang akibat... perang itu. Jadi misalkan 10-20 tahun berikutnya anak-anak main di bawah pohon itu masih nemu tulang manusia dipake main.
Karena perangannya itu bener-bener masif pada waktu itu. Antara Jawa Utara sama Jawa Tengah, Jawa Pertengahan, Jawa Selatan. Jadi pasukan Pangeran Diponegoro itu pada umumnya dari Utara sedangkan pasukan Mataram itu dari Selatan pada umumnya.
Jadi maksudnya perang perang Diponegoro itu sebenarnya adalah perang antara Pangeran Diponegoro melawan Mataram yang Mataramnya ditunggangi oleh Belanda. Jadi bukan perang Diponegoro melawan Belanda. Jadi kan tadi itu, karena si Mataram itu sudah sangat ketergantungan sama Belanda, dan pada era-era selanjutnya juga benar-benar, bahkan di zaman Dendels, di zaman Raffles itu pernah ditodong meriam istana keraton Jawa itu, jadi wibawanya itu sudah jatuh banget di depan rakyat itu. Bahkan setiap perjanjian aja itu merugikan selalu. Ya udah, tapi karena pada waktu itu sudah, kalau rajanya, saya mohon maaf ya, Kalau misalkan rajanya sudah gendut, sudah dikasih makan nyaman, sudah dikasih pengamanan dari tentara Belanda, mereka sudah benar-benar ketergantungan, yaudah.
Sudah kehilangan lagi izahnya, istilahnya. Nah, Pangeran Diponegoro muncul pada waktu itu, kemudian melakukan pemberontakan, bukan gara-gara makam leluhur. Itu mau pemicunya aja, masalahnya adalah karena memang secara keseluruhan Jawa pada waktu itu sudah bener-bener tidak bermartabat untuk banyak orang.
Di antaranya adalah Pangeran Diponegoro. Makanya Pangeran Diponegoro melakukan perlawanan pada Mataram di Tunggangi. sama Belanda, perang disana 5 tahun dan akhirnya Pangeran Diponegoro dikalahkan, nah setelah perang itu itu bener-bener stres di kedua belah pihak sampai tidak ada satupun inisiatif untuk untuk perlawanan, untuk perang.
Jadi pribumi udah gak mau ribut lagi karena penderitaan terbesarnya di mereka. Dan Belanda sejak saat itu jadi penjilat. Jadi kan awalnya udah naik tuh. Awalnya penjilat, terus berkuasa lagi. Nah setelah perang di Penogor itu jadi penjilat lagi.
Saking jadi penjilatnya, mereka rela untuk menyebarkan ajaran agama Islam dan melarang kristenisasi. Sebelum itu kan mereka kristenisasi. Tapi takut terjadi perang seperti perang. perang di Ponegoro, karena di Ponegoro kan bawa simbol-simbol agama kan, bahkan ngakunya pun Ratu Adil beliau itu Nah itu sampai Belanda tuh menghentikan dan melarang semua gerakan misionaris dan kiai-kiai kampung tuh Bapak mau bikin musola ya saya bantu bikinnya ya.
Takut lagi Belanda tuh sejak saat itu tuh. Takut lagi. Kemudian barulah mereka menjalankan politik tanam paksa.
Jadi setelah Pangeran Diponegoro kan tahun 1830 itu diberlakukan yang namanya tanam paksa. Sebenarnya namanya bukan tanam paksa. Namanya kultur sel-sel. Jadi kultur sel-sel itu gimana caranya supaya pajak tanah itu bukan dalam bentuk uang.
Tapi dalam bentuk tanaman ekspor. Nah, sebenarnya sesederhana itu, karena Belanda yang tadi itu balik lagi jadi penjilat itu, jadi sebenarnya kultur style-style itu sangat baik, sangat bagus. Coba misalkan kita lihat aturan-aturannya ya.
1 per 5 tanah rakyat itu harus ditanami tanaman-tanaman ekspor. Kenapa harus 1 per 5? Karena biasanya 1 per 5 itu adalah pajak tanah. Pajak tanah diganti jadi tanaman ekspor.
Nah, berarti rakyat... Sebenarnya nggak kerugian apapun. Sebelumnya pajak pakai hasil bumi atau pakai duit. Sekarang pakai tanaman ekspor. Tanaman ekspor tuh maksudnya?
Iya yang dibutuhkan sama Belanda. Jadi kopi gitu kan. Biasanya atau misalkan tebu yang dibutuhkan sama Belanda gitu kan. Kalau misalkan rakyat nggak punya tanah, maka mereka kerja, kerja rodi. Sekitar 1 per 5 tahun, 55 harian.
Kalau memang kemudian si rakyat itu nanti punya panen, panen dari biaya ekspor itu, kalau lebih, lebihnya untuk rakyat. Kalau gagal panen atau panennya kurang, Belanda yang nanggung. Jadi kena hama misalkan, atau kena banjir.
Itu Belanda yang nanggung kerugiannya. Tapi kalau untung, rakyat. Terus nanti bibit, pupuk, pesisida, kalau ada ya, dan lain sebagainya, itu dari Belanda, bukan dari kita.
Jadi sebenarnya sangat menguntungkan. Karena apa? Karena Belanda sedang menjilat. Bikin sebuah aturan yang bisa mengisi kembali kas mereka yang kosong di satu sisi, tetapi di sisi lain, tidak boleh menciptakan sesuatu yang kontroversial sehingga nanti akan memunculkan lagi perang.
Nah karena itulah maka si Belanda tuh bikin kultur sel-sel itu. Nah cuman pada perkembangan selanjutnya ada satu celah peraturan. Ada celah peraturannya itu gini. Nanti si bupati akan dapet, bupati atau adipati atau siapa itu. akan dapat bonus kalau hasil panen dari tanaman ekspor itu lebih dari target Belanda.
Nah itu aturan kecil nampaknya, tapi dampaknya besar. Apa coba? Ketika bupati diiming-imingi oleh kalau mereka dapat panen berlebih, maka mereka akan dapat bonus, maka bupati itu langsung memaksa rakyat untuk menanam lebih dari 1 per 5. Jadi ada rangkaian korupsi dari atas ke bawah.
Misalkan Belanda minta sama Bupati 1 per 5 tanah. Bupati nanti minta ke bawahnya lagi, misalkan ke siapa gitu, itu mintanya 1 per 4 tanah. Dari situ ke bawah lagi, misalkan ke camat, si camat itu minta 1 per 3 tanah. Dari camat ke bawahnya, misalkan ke kepala desa, itu 1 per 2 tanah. Jadi setengahnya.
Nah dari kepala desa ke rakyatnya, minta seluruhnya mulai sekarang jangan nanam padi, tapi minta tanaman-tanaman ekspor. Jadi itu korupsinya itu berjenjang seperti itu, dan Belanda melihat itu dengan mata kepala sendiri. Tapi membiarkan. Karena apa? Untungnya buat mereka Kalau rugi, kalau terjadi pemberontakan, pemberontakan itu akan ditujukan kepada bupati mereka, bukan pada Belanda.
Gitu kan? Ya karena korupsinya berjenjangnya seperti itu. Jadi mengambil keuntungan.
Jadi pada akhirnya di Grobogan, di Demak itu puluhan ribu orang meninggal dunia, mati kelaparan. Karena apa? Gak boleh nanam padi. Ya kelaparan semuanya, semuanya nanam tebu dan itu kerja rodi gitu demi bupati.
Nah bupatinya kaya dapat dari bonus dan dapat dari ini. Belandanya untung besar karena berlipat ganda keuntungan. Awalnya minta cuma 1 per 5 jadi seluruhnya gitu kan rakyat mati semua.
Itu yang terjadi di Indonesia. Jadi ternyata di perkebunan dan pembangunan jalan itu Oh. Korupsinya gede banget dari zaman dulu.
Tapi sebenarnya dulu itu bukan korupsi. Karena aturannya beda. Makanya saya tuh sering bilang bahwa kita tuh sebenarnya melakukan transisi yang gagal, yang salah gitu. Jadi dulu tuh zaman feudal.
Karena zaman feudal aturannya itu adalah semua tanah adalah milik raja. Semua properti, semua manusia, hewan ternak, air. Semuanya adalah milik raja. Jadi ketika raja mengambil apapun yang dia mau itu bukan korupsi. Itu ngambil haknya aja.
Dulu aturannya itu gitu. Maksudnya raja yang berkuasa di daerahnya ya? Iya raja yang berkuasa di daerah itu.
Makanya di zaman... Di zaman sekarang, saya mohon maaf, banyak orang Jawa yang kalau misalkan punya anak perempuan, udah beres dimandiin, dikasih bedak, bedaknya itu cemung. Berantakan banget gitu kan.
Itu karena berasal dari zaman Belanda. Di zaman kerajaan-kerajaan itu. Jadi di zaman kerajaan itu, karena raja berkuasa mutlak atas seluruh rakyat dan tanahnya, itu kalau misalkan ada lihat cewek cantik, bawa. Nggak peduli dia anak siapa, nggak peduli dia udah punya suami atau nggak, kalau dia ketahuan cantik, bawa. Makanya rakyat membiasakan kalau misalkan punya anak cantik itu justru malah dicemongin.
Mental dan aturan feudal yang seperti itu bertemu dengan liberalisme Belanda. Atau kapitalisme Belanda. Nah, jadi Belandanya yang langsung ngambil tahu itu.
peluang besar, ambil jadi keuntungan mereka yang sebesar-besarnya. Jadilah Belanda jadi negara terkaya di Eropa, lepas dari penjajahan Spanyol, menjadi negara adidaya, ngalahin negara-negara yang lain, dan mereka benar-benar menjadi pusat Eropa. Karena kita. Di masa penjajahan juga, Kang, kita kan mengenal ada perbedaan kelas sosial, dimana pribumi itu masuk di kelas paling bawah, kelas paling atas itu orang-orang Eropa, menengah itu orang timur, Arab.
atau Cina. Diskriminasi apa aja sih kepada rakyat peribumi pada saat penjajahan? Sebenarnya bagian terbesarnya bukan diskriminasi.
Bagian terbesarnya adalah bahwa rakyat jelata itu tidak dianggap manusia. Jadi nggak didiskriminasi, cuma bukan dianggap manusia. Nggak dianggap manusia. Jadi mereka itu hanya dianggap sebabnya budak aja dia bahkan ya binatang bisa disamain dengan binatang kan makanya pribumi dan anjing dilarang masuk ya karena itu memang beneran ada ada memang ada aturannya seperti itu jadi misalkan kantor-kantor Belanda, peribumi dan anjing dilarang masuk.
Karena sekotor itu dalam pikiran orang Belanda pada waktu itu. Jadi Belanda hanya mau berkoordinasi, bekerjasama, ngobrol dengan para bupati untuk diambil harta kekayaannya. Bupati itu ngambil dari rakyat.
Nah kemudian di satu sisi Belanda juga bekerjasama dengan orang-orang timur, Cina, Arab, dan sebagainya untuk ngurusin sesuatu yang di luar formal, di luar legalitas mereka. Jadi misalkan perdagangan Nah perdagangan itu harus mintanya ke Cina Bukan sama orang-orang kita Kalau misalkan sama Cina itu lebih enak Karena Cina itu kan di zaman lampau itu bukan berasal dari wilayah Indonesia Mereka pendatang Nah karena si pendatang mentalitas mereka itu adalah mental yang tidak dibangun oleh mental feodal masyarakat kita Kan masyarakat kita itu tunduk takut sama bupati Mental masyarakat Cina itu gak kayak gitu Jadi mereka lebih bebas, lebih liberal, lebih terbuka karena tidak dibesarkan dalam ruang lingkup yang seperti itu. Nah karena bebas maka interaksi mereka dalam atau misalkan kaitan mereka atau keterlibatan mereka dalam masalah-masalah ekonomi, politik, dan sebagainya itu bisa menjadi lebih leluasa, lebih cair gitu.
Nah makanya biasanya dalam pemukiman-pemukiman di jaman Belanda itu, Belanda disimpan di tempat paling tinggi misalkan di wilayah pegunungan gitu. kemudian, nah di sekelilingnya itu orang-orang Cina, sama Arab mungkin lah, nah di bawahnya itu itu orang-orang pribumi jadi, hasil bumi naik ke atas nah, Belanda buang kotoran, sungai sungainya dikebawahin, itu untuk orang pribumi kayak gitu, makanya kalau misalkan ada pemukiman-pemukiman Belanda misalkan di Jakarta, cari misalkan yang dulunya pemukiman Belanda, itu dikelilinginya sama Cina, pemukiman Cina, baru dikelilinginya lagi, itu pribumi gitu gitu Belanda najis dalam tanda ku tipiknya najis banget kalau misalkan ketemu sama orang pribumi itu. Kalau mau ketemu ya boleh tapi mereka jadi yang ngangkut tandu gitu.
Yang gitunya doang. Sampai segitunya ya? Sampai segitunya.
Bahkan sampai sekarang setelah merdeka pun kita masih suka denger kayak orang-orang kita nih punya mental inlander. Iya. Merasa bahwa bangsa asing tuh budaya lebih inferior gitu.
Kalau menurut aku tuh masih terjadi. Masih sampai sekarang. Karena Belanda setelah itu pun masih menanamkan gimana caranya supaya Belanda bisa bertahan dengan penguasaannya terhadap Indonesia, ya harus menciptakan sebuah sistem dimana masyarakat kita tuh jadi bodoh.
Kan kalau jadi pinter berontak lah jadi harus bodoh. Jadi diantara jadi bodoh itu adalah penekanan bahwa Tidak ada bangsa pribumi yang bisa mengalahkan Eropa, baik secara intelektual maupun fisik. Jadi digambarkan orang pribumi itu jelek, pendek, pesek, belek, boketek, ya yang gitu-gitulah.
Nah sedangkan yang orang-orang Belanda itu tinggi, mancung, ya semacam gitulah. Nah kemudian ditanamkan di sekolah-sekolah bahwa kalian tidak mungkin bisa. membebaskan diri dari Belanda karena kalian tidak layak selama-lamanya kalian tuh memang untuk jadi budak nah salah satu untuk jadi budak itu bagaimana? salah satu untuk jadi budak itu adalah si orang-orangnya itu ditekankan bahwa kalian tidak bisa jadi apa-apa tanpa kita, tanpa Belanda nah itu sama politisi-politisi di Indonesia dilestarikan sampai sekarang, jadi kita tuh lepas dari Belanda, kita tapi...
Pendidikan Belanda ke kita agar kita bodoh itu tetap dijalankan. Makanya politisi-politisi itu kalau kampanye, kami akan membela rakyat, kami akan mendukung rakyat. Karena apa?
Karena mereka itu menekankan bahwa mereka bisa melakukan segala sesuatu, rakyat tidak. bisa melakukan apapun. Sehingga rakyat diset. Kalau misalkan terjadi bencana alam, mereka kalau diwawancara akan berkata, ya kami berharap agar pemerintah segera membantu. Kan gitu kan?
Time plate banget. Karena apa? Itu ditekankan.
Pejabat bisa melakukan apapun. mendukung rakyat, membela rakyat rakyat tidak bisa melakukan apapun sehingga ada bencana alam pun kami berharap pemerintah segera membantu kita jadi ditekankan itunya, jadi Belanda juga pada waktu itu seperti itu kalian tuh gak bisa, jadi kalau misalkan kalian mau ini, kami akan dukunglah rakyat, kami akan mensejahterakan rakyat dengan menekankan, kalian tuh gak akan bisa apa-apa tanpa kami itu sampai sekarang modal kampanye dan model del kampanye di Indonesia sampai sekarang gitu. Menciptakan pembodohan masal agar bisa dipanen setiap 5 tahun sekali.
Relah untuk menghabiskan uang negara hanya demi apa? Demi bisa mengambil simpati rakyat. Kenapa?
Karena rakyat itu pengen segala sesuatunya gratis. Ya kalau ya, kalau. Kalau di negara yang ideal, dengan pemerintahan yang ideal, pemerintahan itu bukan ngajak orang-orang supaya ini gratis, ini gratis, sekolah gratis, internet gratis, makan siang gratis, apa gratis, bukan. Tapi ayo kerja di sini, ayo berprestasi di sini, ayo kita berjuang sama-sama, kan harusnya gitu.
Tapi karena kalian nggak akan bisa berjuang, karena kan kalian rakyat. Makanya jangan libatkan saya, saya cuma rakyat biasa. Kita tuh didorong untuk berpendapat seperti itu, template seperti itu. Itu orang Belanda ngajarin kita seperti itu dan diturutin sama politisi-politisi kita.
politisi-politisi kita itu ya gak jauh dari mentalitas penjajah itu dan kita yang dibodohinnya ya sama aja mentalitas terjajah. Makanya ayo lepaskan diri dari politisi-politisi busuk yang kayak gitu. Kita lompat sedikit, Kang. Tadi kan setelah perang di Jawa ya.
Nah akhirnya waktu itu terjadi kekosongan pemerintahan. Karena kan waktu Jepang kalah sama Jerman kan. Menurut Kang Guru, udah tepat gak sih Bung Karno, Bung Hatta gitu ya memproklamasikan kemerdekaan pada saat itu?
Gimana ya, ini sebenarnya jawabannya agak sulit. Tergantung kacamatanya, tergantung sudut pandangnya. Tapi saya harus jelaskan gini.
Seandainya Indonesia tidak memproklamirkan kemerdekaan, Belanda tuh... akan membebaskan Indonesia. Serius?
Serius. Karena seluruh negara Eropa di seluruh dunia kompakan pada waktu itu setelah Perang Dunia II. Yuk kita bebaskan semua negara-negara jajahan kita.
Karena apa? Karena mereka sudah menemukan ide untuk menjajah tanpa mengeluarkan sumber. daya. Jadi disebutnya neokolonialisme dan neoimperialisme. Jadi mereka sudah pindah ke sana.
Jadi, Belanda kalau menjajah Indonesia, dia harus mendatangkan tentara, dia harus mendatangkan ahli, dia harus mendatangkan tenaga administrasi, dia harus mendatangkan gubernur jenderal ke Indonesia. Dan biayanya mahal. Ditambah perongkos perjalanan, dan harus bikin gedung sate, harus bikin museum ini itu, ya, rel kereta api, jalan raya, mahal banget. Dapet duit?
Dapet, tapi modalnya besar. Maka daripada menjajah seperti itu dan risikonya perang terus gitu, mendingan neokolonialisme nih, imperialisme. Neokolonialisme itu kayak gimana? Menciptakan kesenjangan teknologi yang besar agar negara...
kita ketergantungan pada Belanda, pada negara-negara lain. Bahkan ketika sekarang Amerika Serikat nggak usah mendatangkan pasukan ke Indonesia, Amerika Serikat udah dapet triliunan dari Indonesia per tahun, ribuan triliun per tahun dari Indonesia. Karena apa?
Karena kita nggak bisa bikin kilang minyak. Jadi ahlinya harus dari sana, mesin-mesinnya harus dari sana, onderdealnya harus dari sana. Di sana terpaksa beli kan?
Ya karena kita bodoh. Jadi ciptakan kesenjangan yang besar dalam teknologi. Sehingga kita gak dijajah pun kita mohon-mohon supaya dijajah. Please lah ke China saya mau bikin kereta cepat.
Please karena saya gak bisa bikin. Tapi saya harus meningkatkan ekonomi rakyat. Please dong.
Nah akhirnya China dapet untung sekian triliun gitu kan. Datang ke Singapura. Please lah jualin barang-barang saya.
Saya kalau jualan ke Amerika Serikat gak laku. Jadi jualin sama kamu kalau di Cap Singapura. Itu laku.
Kan orang Indonesia lucu kalau datang ke Singapur, beli kaos, I love Singapore. Lah itu buatan Indonesia. Kan kocak. Emang di Singapur ada pabrik tekstil?
Mana ada negara segede gitu punya pabrik tekstil? Kan nggak punya. Nah, jadi mereka menciptakan kebodohan-kebodohan dan kesenjangan yang besar agar negara-negara mereka dapat suplai duit yang terus-terusan tanpa harus mengeluarkan biaya perang.
Tanpa harus, nah jadi Belanda pada waktu itu memang sudah akan mebebaskan Indonesia. Tapi kenapa terjadi agresi militer? Karena kalau misalkan Indonesia yang memerdekakan pada waktu itu, maka seluruh wilayah, kan namanya... juga perang.
Kalau perang, siapapun yang menang, dia yang berhak menguasai aset yang diperbutkan. Nah, gitu kan? Nah, kalau misalkan si Belanda mau membebaskan Indonesia, perusahaan-perusahaannya yang sudah bercokol, sudah disiapkan untuk nekolim di Indonesia, akan tetap menyuplai duitnya buat Belanda.
Tapi kalau misalkan Indonesia melepaskan diri dari penjajahan, maka itu semua menjadi milik Indonesia. Nah, makanya perjuangan kemerdekaan Indonesia itu bukan hanya soal harga diri, tetapi pada akhirnya kita harus memiliki aset-aset. Makanya aset-aset itu... itu nanti akan diserahkan kepada TNI, akan menjadi BUMN.
Nah itu bank-bank di Indonesia itu banyak yang sebenarnya milik Belanda. Makanya Bukarno langsung nasionalisasi semuanya. Iya nasionalisasi semuanya.
Itu kan sebenarnya adalah tujuannya adalah untuk itu. Jadi, nah cuman Belandanya pada waktu itu yang kelabak. saya belum balik modal nih kenapa diambil makanya mereka langsung melakukan agresi ke Indonesia kita punya Sudirman pada waktu itu, punya Pak Urib pada waktu itu punya Bung Karno, Bung Syahrir segala rupa yang perjuangannya itu gila-gilaan jadi superioritas Belanda dalam militer akhirnya juga bisa dikalahkan dengan dedikasi yang luar biasa dari para pejuang kita itu luar biasa ya korban dari agresi militer itu ya? banyak, banyak banget tapi memang hmm Ya namanya juga perang sih. Oke.
Ini juga ada pertanyaan menarik nih Kang. Sebetulnya kenapa sih kayak Portugis, Inggris gitu ya. Itu lebih sebentar dibanding Belanda ketika menjajah Nusantara.
Pendekatannya beda sih pada waktu itu. Jadi Portugis misalkan ketika datang ke Nusantara. Dia melakukan penjajahan itu termasuk juga penjajahan budaya dan agama. Karena.
Karena apa? Karena mereka itu datang ke Nusantara di masa-masa awal atau bahkan sebelum reformasi gereja. Karena itu maka mereka itu menjajah memang sekalian untuk menyebarkan agama dan sekalian untuk menjadikan wilayah kita itu sebagai koloni, wilayah rakyat mereka. Nah di Indonesia Islamnya udah kuat. Jadi kalau misalkan oke lah sumber daya kita dicurangin gitu.
Misalkan kita dagang dicurangin masih oke. Tapi ketika... Ada Kristenisasi. Nah itu reaksinya kuat sekali di Indonesia.
Makanya Portugis gak aman di Indonesia. 75 tahun langsung kabur-kabur sambil nangis-nangis dia. Inggris sama Belanda itu datang belakangan.
Karena mereka itu penjajah baru gitu kan. Sebelumnya Portugis-Spaniel. Nah ketika penjajah baru. Inggris itu menjajah untuk nyari sumber-sumber industri. Kalau Belanda nyari sumber-sumber perkebunan.
Nah. Nah wilayah Nusantara itu kan subur. Nah cocoknya itu ngambil wilayah-wilayah perkebunan. Makanya Belanda disini awet.
Nah kalau Inggris nyari untuk bahan-bahan industri mereka. Makanya cocoknya di India. Karena India itu populasinya pada waktu itu jauh lebih banyak.
kemudian yang dibutuhkan oleh Inggris misalkan seperti kain benang apa segala rupa sumber dayanya adanya di India makanya Inggris fokus di India Belanda fokus di Nusantara apa aja sih peninggalan dari Belanda sampai hari ini yang ditinggalkan sama Belanda yang semacam itu jadi kita tuh hanya punya museum-museum bangunan-bangunan Belanda gitu jalan-jalan apa segala rupa ya hanya semacam itu saja Kalau misalkan administrasi, sama hukum administrasi kita masih Belanda. Kemudian pedagang kaki lima itu urusan Belanda. Pedagang kaki lima maksudnya? Iya kan istilah kaki lima itu diambil dari kata lima kaki.
Jadi dulu Belanda itu bikin sebuah tata kota, bikin sebuah peraturan. Bahwa misalkan setiap satu orang itu harus... Jadi satu orang yang punya rumah harus mengalokasikan 7 meter taman untuk resapan air. 7 meter.
Dan di depan rumahnya itu harus ada trotoar yang lebarnya itu adalah 5 kaki. Nah trotoar itu disebutnya 5 kaki. kaki. Nah jadi siapapun yang dagang di situ tuh disebutnya pedagang kaki lima.
Nah itu kan urusannya Belanda tuh. Nah gitu. Terus ya udah sisanya. Belanda itu tidak memberikan impact yang besar bahasa kita tidak bahasa Belanda karena mereka tuh ya itu.
Jadi gak mau ngajarin kita bahasa Belanda, interaksi sama Belanda tuh gak mau. Bahkan istilah-istilah Portugis itu bisa sama banyaknya mungkin dengan istilah-istilah Belanda. Padahal Portugis cuman menjajah kita tuh. Atau berusaha Usaha menjajah kita itu kurang dari 100 tahun, dan itu pun hanya di beberapa titik, tapi bahasa-bahasanya lebih masuk ke kita.
Sedangkan yang Portugis lebih banyak. Ini pertanyaan terakhir mungkin, Kang. Karena akan ada podcast lagi.
Apakah hari ini kita itu udah benar-benar merdeka? Maksudnya merdeka secara ekonomi, politik? Jadi kemerdekaan itu tidak mungkin bisa kita miliki selama kita membutuhkan dan... tergantungan pada sesuatu.
Maka sesuatu itu pasti akan menjajah kita dalam tanda kutip. Jadi kalau misalkan kita butuh duit, ya biasanya sih kita akan dijajah sama duit. Nah sekarang, keterjajahan kita itu karena kita banyak kebutuhan. kebutuhannya, tapi nggak banyak bisa memecahkan masalahnya.
Kita butuh transportasi, tapi nggak bisa bikin mobil. Atau pemerintah kita tidak berkehendak untuk bikin mobil. Akhirnya kita ketergantungan sama penyuplai mobil, Jepang, Jerman, yang kita dijajah sama mereka.
Kemudian, dalam tanda kutip itu ya, kemudian kita butuh misalkan alat-alat permesinan, kita butuh vaksin, kita butuh ahli-ahli kedokteran. Semuanya bukan dari kita. Atau...
atau sedikit sekali kontribusinya dari kita, maka kita dijajah. Jadi kita tuh dijajah sama banyak pihak. Dalam konsep penjajahan yang seperti itu, bahwa penjajahan adalah karena kebutuhan kita tidak mungkin bisa diakomodisi oleh diri kita sendiri. Makanya rumusan Bung Karno pada waktu itu adalah berdikari, berdiri di atas kaki sendiri, karena itu adalah satu-satunya jalan kita bisa melepaskan diri dari penjajahan. Nah, kalau penjajahan formal, ya kita sudah merdeka, kita sudah merayakan 17 Agustus, gitu kan, Terus balap karung, segala rupa yang kayak gitu.
Tapi sebenarnya secara esensial kita masih dijajah. Bahkan yang 17 Agustus itu juga kan sebenarnya itu adalah upacara-upacara Belanda untuk melecehkan Indonesia. Nah, kita semua kita diikutin. Lomba 17 Agustus itu? Iya, banyak.
Melecehkan Indonesia maksudnya? Iya, misalkan panjat pinang tuh. Nah, itu kan sebenarnya cara Belanda untuk melecehkan kita.
Kita tuh dikatain monyet. Monyet gue udah ke atas, oh jatuh lagi. Itu udah dari zaman Belanda? Itu zaman, itu... itu cara Belanda itu itu ini acara-acara Belanda tuh Tapi kan kita sekarang sudah Jadi kan sebenarnya perilaku perbuatan itu kan Tergantung pada cara kita memaknainya Kita kan memaknai dengan cara yang berbeda Tetapi awalnya secara historis Itu sebenarnya adalah cara orang Belanda Untuk menistakan kita Balap karung gitu kan Jadi kayak orang-orang Indonesia yang Berusaha lepas dari penjara Tapi kan diikat kakinya jadi loncat-loncat Kayak gitu, kayak gitu lah Itu sebenarnya cara-cara Belanda untuk melecehkan kita Kita tuh dikatain monyet Pas lagi panjat pinang.
Iya, emang itu ceritanya. Ceritanya kan monyet-monyetan. Itu nama panjat pinang itu monyet-monyetan. Tapi zaman Belanda udah ada hadiahnya di atas. Ada, ada hadiahnya.
Ya makanya betapa kelaparannya masyarakat kita sampai dikasih hadiah aja. Sampai siap-siap mandi lumpur. Nggak pakai baju apa penuh. Mandi lumpur udah ada. Bukan zaman TikTok sekarang aja.
Enggak. Oh beda. Oke Kang, makasih ya. Siap. Udah kembali jadi narasumber.
di RJL ya nah itu deh guys episode DMJ pada kali ini tentang kemerdekaan dimana pertanyaannya hari ini adalah apakah kita sudah benar-benar merdeka, nah dalam konteks ini kitanya adalah diri kita sendiri, coba kalian tanya ke diri kita sendiri, diri kalian sendiri apakah kita sudah merdeka, gue Fajar Adit ya RJL 5, unjur diri dalam acara DMJ ciao