Terima kasih. Sampai saat ini, ini adalah buku yang bisa menginspirasi, menginspirasi kita semua, inspirasi untuk menjadi pejuang bangsa. Lalu, selamat atas pelancoran bukunya, dan sekali lagi Pak, top, top, top. Saya selalu ingat ucapan Bapak, kalau yang dibawa langit itu, sepertinya malah gak ada waktunya.
Semuanya bisa beras sampai hal yang tidak terduga. Sukses terus PAMENKO. Dari acara hari ini, semoga buku ini dapat terus menginspirasi kita semua di PAMENKO.
Masuk kami supaya bisa bekerja 24x7 selama 7 hari penuh. Terima kasih. Halo Pak Luhut, selamat ya atas peluncuran buku yang sangat dasar ini. Boleh ya saya kasih pantun Pak, semuanya bilang cakep ya.
Begini pantunya. Bunga melati indah di kalah malam Tersemat di baju nan indah berseri Dari hati kami yang paling dalam Selamat atas peluncuran buku yang bermanfaat ini sekali lagi Pak selamat selamat selamat selamat sukses selalu terima kasih BNI Warsio Gubernur Bank Indonesia selamat siang Ibu Bapak sekalian acara akan sudah dimulai, jadi kami mohon untuk Ibu Bapak bisa menempati kursi yang telah disediakan terima kasih artinya adalah dedikasi dan cinta bagi tanah air dan musa bangsa itulah General Lut Binsar Panjaitan provisiat dan selamat ya Pak untuk peluncuran bukunya Akhirnya buku perjalanan hidup Bapak terbit juga yang penuh makna dan pesat. Bapak adalah petarung ulung dan tangguh menghadapi segala cuaca dan berhati mulia.
Bapak adalah teladan dalam perbuatan perkataan, kesetiaan dan cinta kasih kepada Ibu Pertiwi Indonesia. Selamat Pak LBB! Selamat atas peluncuran buku biografi Luhut Bin Sar Panjaitan Pak.
Semoga para pembaca setelah membaca buku Bapak dapat terinspirasi seperti hal lainnya. Kami dalam kehidupan sekesaharian dibawa ke... Banyak belajar dari kepemimpinan dan juga pengalaman Sekali lagi dan semoga Bapak ini dapat menginspirasi banyak orang untuk menciptakan lebih banyak luhut, binar, penjahitan.
Lebih banyak lagi orang-orang yang secara menyuluh, secara luhut, bercahaya, berbinar, berbinar, membagi berkah, pengalaman, dan kebaikan untuk kita semua. Mau lihat yang godang Pak? Forest! Halo Pak Luhut, saya ucapkan selamat atas peluncuran dunia.
Saya yang sudah ikut dari Bapak sejak tahun 2014 di pemerintahan, sejak tahun 2011 di perusahaan Bapak. memperoleh banyak sekali manfaat, pengalaman, dan pelajaran dari selama ikut Bapak sampai saat ini. Saya rasa isi buku ini akan memberikan banyak manfaat. Selamat Pak Luhut atas peluncuran bukunya. Semoga buku ini menjadi inspirasi kami untuk mengikut hijab Bapak, memberikan yang terbaik bagi masyarakat.
Pak Luhut yang kami maklumkan, terima kasih sudah membuat buku ini. ini. Berarti kita generasi muda bisa ikut mengetahui cerita hidup Bapak sejak kecil sampai sekarang yang tentunya pasti menginspirasi.
Semoga setelah membaca ini kita ikut ketularan sukses, sehat, sama rezekinya paluh. Terima kasih. Terima kasih Pak Luhut.
Selamat untuk penunjulan bukunya hari ini Pak Luhut. Semoga buku ini bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia ke depan sebagaimana Pak Luhut terus menginspirasi kami untuk menjadi seorang pemimpin yang bekerja tanpa lelah untuk bangsa dan negara dan juga untuk selalu berani jika benar. Naik versi kelima warga rakyat, mawar semenuh memikat.
Semoga hidup penuh anugerah, terus bekerja, memberi manfaat. Selamat sekali lagi buat Pak Lembut atas peluncuran buku biografinya. Selamat kepada penggagas Buku Geografi Palemut, yaitu Ibu Kartini Sahrir dan juga Mas Norka Mas Sardi sebagai petulis.
Banyak hal baru dari buku ini, saya sudah baca banyak hal baru dan sangat menginspirasi. Semoga buku ini banyak menjadi pelajaran buat kami generasi yang lebih muda dari malam. Terima kasih. dengan buku ini.
Kisah hidup yang penuh perjuangan dan pencapaian. Sekali lagi, selamat Pak. Semoga terus menginspirasi. Banyak cerita yang kami dapat dari buku ini.
Kami mengetahui bagaimana kehidupan Bapak setiap kecil. Dan pasti kami sebut bangga dan kagum. Dalam usia seperti ini, Bapak masih bisa mengabdi kepada bangsa dan negara dalam kesempatan yang cukup tinggi.
Sehat dan sukses selalu, semoga Tuhan yang mahasiswa selalu melindungi Bapak dan Tuhan. Terima kasih. Generasi muda, generasi penerus perlu belajar dari biografi, bagaimana seharusnya kita menjalani hidup dan memelihara bangsa kita ini. Pak Luhut, selamat.
Semoga tokoh-tokoh yang lain juga bisa menuliskan biografinya yang bisa digontoh. Selamat, Bang Luhut. Semoga bisa terus menginspirasi ya, Bang. Terima kasih. Tuhan memberkati.
Selamat Pak Luhut atas peluncuran bukunya yang tentu akan menjadi testimoni dari kesuksesan Pak Luhut dan orang lain untuk mendapatkan hibah dari itu. Bagi saya yang berusia 60 tahun ini, Pak Luhut yang berusia 75 merusak pasaran Pak. Karena sekarang semua orang menganggap bahwa 60 itu belum apa-apa, kalau belum bisa sampai Pak Luhut yang umur 75 seperti itu.
Sekali lagi selamat ya Pak Luhut. The one and only, James Bonnya Indonesia, opungnya generasi muda Indonesia. Senang sekali karena hari ini adalah peluncuran buku biografi Pak Luhut.
Semoga bisa menjadi kesempatan bagi kita semua yang muda. mudah-mudah untuk lebih mengenal sosok Pak Luhut terutama kepemimpinannya. Buat Bapak, usia memang sekedar angka, integritas, serta disiplin diri yang tinggi yang tentunya bisa menjadi inspirasi bagi kita.
Sekali lagi, selamat atas penuncuran bukunya. Kepada tulang saya, Pak Luhut Bin Sarbanjaitan, selamat atas buku ini yang menceritakan karir. Pak Lut sebagai seorang prajurit, sebagai seorang dubes, sebagai seorang menteri, sebagai seorang negarawan, tapi yang paling penting sebagai seorang ayah, suami, dan juga paman, buat saya pribadi.
Selamat dan semoga buku ini akan banyak manfaat bagi kami semua sebagai negara Indonesia. Selamat dan congratulations. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Shalom, Om Swastiastu, Namo Buddhaya, Salam Kebajikan Dan tentunya selamat siang Salam sehat buat kita semua Salam sehat buat semua tamu-tamu yang sudah hadir Terutama disini ada Pak Luhut Bin Sarpanjaitan Pak Luhut Bin Sarpanjaitan, senyumnya Kasih pengertian yang luar biasa dulu dong untuk beliau Beliau ini adalah tamu podcast saya yang paling menakutkan Episode berapa waktu itu?
Dari pertama menakutkan, yang kedua juga tetap menakutkan Tetap menakutkan Jadi saya tuh selalu bilang kalau Pak Luhut ini adalah salah seorang menteri yang dikasih kerjaan paling banyak Saya sampai mikir beliau ini bukan dikasih kerjaan Tapi dikerjain Itu justru yang viewersnya tinggi kan Betul Selamat siang Pak Luhut Terima kasih hari ini kami berdua dikasih Kesempatan untuk memandu acara ini Meskipun baru tadi kita berbincang-bincang Kalau kami ingin menyapa Menyapa satu persatu Rasanya sampai ke meja belakang VIP semua Jadi izinkan kami menyapa Bapak dan Ibu sekalian yang kami hormati Sekali lagi selamat siang Terima kasih sudah melakukan waktu siang pernah jadi tamu podcast saya. Udah baik kan Pak sekarang Pak? Masih musuh apa ya? Kayaknya jangan-jangan ini acara podcast tamunya ini ada di semua disini ya? Kayaknya begitu Blori.
Dan tadinya Pak Sintong, Ibu Kartini Syarir, dan juga Bapak Ibu sekalian yang tentunya tadi ya kita kalau sebut satu persatu sampai belakang semua di IPB. Karena semuanya tamu-tamu penting disini. Tapi hari ini adalah hari peluncuran dan bincang buku dengan judul Biografi Luhut Bin Sar Panjaitan. Nah, saya pada saat podcast dengan beliau itu saya coba untuk mengutak-mutik kehidupan pribadinya beliau, tapi gak ada pendapat. Gak bisa.
Jadi terpaksa buku ini harus diluncurkan. Harus diluncurkan ya, karena disitu ada sisi lain Pak Luhut yang mungkin kita juga baru mengenal lebih dekat, karena sudut pandangnya tidak hanya dari sahabat, tapi juga dari keluarga, keponakan, dan orang-orang terkasih. Saya sudah tidak sabar baca bukunya pengen tahu Pak Luhut sebagai manusia.
manusia itu seperti apa sebenarnya gitu ya yang pasti satu kata kuncinya mystery of life salah satu keyakinan Pak Luhut bahwa hidup ini kita enggak tahu mengalir dan bermuara kemana tapi itulah penyertaan Tuhan yaitu lah misteri kehidupan kalau Pak Luhut tahu deh kayaknya mau ngalir kemana kayaknya tahu dan buku ini ternyata dibuat oleh keluarganya sendiri jadi benar-benar terdip sekali inside sekali invite full sekali dan melihat kemanusiaan sebagai manusia dari saudara-saudara terdekatnya ya dan lucunya memang ini dibuat untuk hadiah ulang tahun keberapa Pak 18 Pak ya 5757 udah gue turunin 18 di naikin 57 karena gagahnya itu tidak berubah ya dan ini adalah kado indah kado manis dari Ibu Kartini Syahrir ibuker kita berikan tepuk tangan untuk ibu yang dari dulu suka menulis dan bukunya juga sudah banyak kita baca ini adalah buku yang saya rasa paling istimewa juga, Bu. Tapi enggak selesai di sana, karena saya dapat informasi nih, bahwa Ibu juga kepala lima ya. Lima kan? Saya mau ngomong tujuh takut. Ibu juga kepala lima, jadi beda tipis dengan Opung.
Ibu Kartini adalah seorang antropolog, dan akan sabatika melakukan riset di... Nah, benar. Karena jadi tadi kan saya cerita suka menulis.
Kalau di Jakarta menulis banyak distrupsinya. Jadi akan sabat ikal dulu ya Bu ya. Mudah-mudahan 1-2 bulan ini akan ke Leiden.
Kemudian juga menerbitkan satu buku lagi. Kali ini menang. Menarik karena ada kisah percintaan dua muda-mudi gitu ya dengan latar Batavia.
Jadi novel. Dan ini menarik ya backgroundnya nanti mengambil tahun era 90an ya. 1900an Batavia ketika ada Spain Flu melanda Batavia. Mereka saya doakan biar muncul di TV nanti jadi pengganti sinetron tersanjung.
Karena bagus kalau ini ceritanya bagus kalau enggak film bioskop lah. Dan yang paling lebih menekan. kan adalah disini nih, jadi indahnya pluralisme, pluralisme yang kemudian akan diangkat dari novel ini dan tentunya kita akan lihat dari sisi romantisme juga Batavia di era itu pakai riset loh, Pak jadi kita doakan Bu, semoga lancar menulisnya, nanti kita nantikan tahun depan mudah-mudahan diluncurkan ya Bu ya Itu kayaknya mimpi semua orang ya ketika sudah usia udah 50-an gitu ya Terus bisa nulis buku di Leiden, itu kayaknya mimpi banget deh Saya kayaknya nanti juga akan Nulis buku juga? Jangan dong, podcastnya nanti Saya healing aja. Bagi jaman healing soalnya sekarang.
Baik, kita akan masuk ke acara pertama. Jadi saya akan mempersilahkan Bapak Tri Agung Kristanto. Ya, sahabat akrabnya Tera. Kalau di redaksi kami memanggilnya Mas Tera.
Tri Agung Kristanto, wakil pemimpin redaksi Harian Kompas. Untuk memberi sambutan di siang hari ini. Silahkan, Bapak Tera. Mas Tera, kami silahkan.
Selamat siang Pak Luhut, Bukartini, Bapak-Ibu dan semua teman-teman. Saya lebih baik menyapa teman-teman karena kita semua teman di sini. Teman, sahabat datang untuk Pak Luhut. ...datang untuk Ibu Kartini karena yang punya ide Ibu Kartini membuat kejutan buat kakaknya. Kakaknya yang Ibu Kartini menceritakan sambil makan siang di rumah, di rumahnya Ibu Kartini.
Kakaknya itu sangat... deket, sangat melindungi tapi juga ada galaknya juga ada galaknya dan galaknya itu semoga juga tercermin dari buku ini yang dituliskan oleh Mas Nurka Masabri terima kasih untuk kepercayanya kepada Kompas untuk menerbitkan buku ini saya membaca buku ini sebenarnya kesimpulannya cuma ada satu sebenarnya kesimpulannya itu bukan dalam bentuk narasi tetapi kesimpulannya ada di halaman 200 Dan itu bentuknya foto. Foto yang di halaman 218 ketika kemarin ulang tahun 28 September ya.
Ini tanggal 28 September di 2021. Betapa Pak Luhut dengan adik dua adiknya. Dan tangannya Pak Luhut ada di atas kepalanya Bukartin. Blessing. Jadi seorang kakak itu bukan...
Bukan hanya mengayomi, melindungi dan menjaga keluarganya. Apalagi anak nomor satu. Tapi yang paling penting dia memberikan berkah. Memberikan berkah bukan hanya kepada keluarganya.
Tetapi pada kita semua. Dan paling terasa berkahnya adalah kepada Kompas tentu saja. Terima kasih. Selamat menikmati buku ini. Dan sekali lagi terima kasih untuk semuanya.
Terima kasih. Terima kasih Mastra. Suatu kebanggaan juga buku ini bisa diluncurkan. Diterbitkan, diluncurkan oleh penerbit buku Kompas.
Ya dan kayaknya gak afdol kalau kata sambutan atau pembuka tidak diberikan kepada yang diceritain di bukunya sendiri. Jadi langsung aja berikan tepuk tangan paling besar untuk Jenderal Luhut Panjaitan. Bapak Ibu sekalian.
Sebenarnya saya sudah disiapkan sambutannya ini, saya pikir saya enggak baca aja lah. Pertama, saya ucapkan pada semua teman-teman yang hadir pada kesempatan ini, teman-teman Menteri juga ada di sini, Pak Darto yang paling senior. Tapi sebenarnya ada satu orang yang istimewa, mentor saya, senior saya, Pak Sintong Panjaitan. Bukan karena kami kebetulan sama Panjaitan tidak. Semua mungkin banyak perwira yang saya kagumi, ada dua.
Satu Pak LBM, Pak Murdani, dan kemudian Pak Sintong. Saya sebenarnya enggak tahu buku ini mau ditulis oleh Kartini, tapi tiba-tiba satu ketika dia bilang, Fud, aku mau nulis buku mengenai kamu, masa kecil kita. Saya pikir ya, Pak Mahfud silakan.
Jadi saya bilang ke dia Ya suka-suka mula gitu Karena waktu masa kecil kami Dengan Kartini ini Saya mungkin termasuk yang sangat dekat Karena Kartini dulu lemah Jadi ya Saya suka bantu dia Dan menurut saya gak pintar-pintar amat Tapi kemudian saya lihat dia pintar banget setelah dia menyelesaikan kuliahnya dari UI. Saya tahu, wah adik saya ini hebat banget gitu. Jadi Kartini ini memang saya dekat.
Terus kemudian kami berenang, jadi kami suka berenang, di Rumbai kami tinggal dulu, ya masa kecil suka ke hutan dan segala macam, dan saya diceritakan oleh Kartini di puku itu, yang saya sebenarnya sudah hampir-hampir lupa, tapi saya ingat betul karena belakang rumah kami pas hutan di Rumbai itu. Jadi saya suka ngajak dia, kami pernah dikejar babi liar di sana, lari dan sebagainya. Saya suka berkelahi dulu juga diceritakan sama Kartini di sana. Ya saya pikir ya itulah satu mungkin cerita yang oleh Kartini diungkapkan saya lihat secara baik, karena dia penulis yang baik, saya bukan penulis yang baik.
Dan buku saya sendiri baru saya siapin, saya baru mau nerbitin setelah saya berhenti nanti jadi Menteri. Ya insyaallah semua baik-baik 2024, 2025. Jadi ini buku saya pikir, terima kasih Ker, kamu udah membuat dan saya lihat. tulisannya wow, ini hebat juga kartu ini nulisnya. Dan pada semua yang membantu juga saya kira terima kasih Pak Roka, terima kasih yang interview saya, yang saya terus terang juga Mas Hadi. Ragu juga buku ini mau ditulis apa sih, saya di interview berapa lima kali ya kalian.
Lima kali tanya-tanya itu satu jam satu jam, ya saya iain aja bud. Jadi menggali lagi memori saya dengan adik saya sampai jadi begini. Jadi itu yang saya bilang mystery of life.
Jadi kita enggak pernah tahu apa yang terjadi sama kita, oleh karena itu kita enggak perlu merasa paling hebat, paling sengsara, paling beruntung, tidak ada. Saya yakin dalam perjalanan hidup saya. Hari ini saya katakan, mungkin nanti Pak Sintong baca cerita mengenai itu, karena saya masih tetap mengganjal di hati saya walaupun sudah liwat.
Saya adalah prajurit yang profesional menurut saya. Tapi saya enggak pernah mendapatkan suatu privilege di TNI di mana saya dibesarkan. Tapi that's part of my life. Jadi tidak ada yang perlu disakit hati juga, karena apa?
Ya Tuhan mengatur lain. Alam ini, universe ini mengatur lain. Sekarang di usia saya 75 tahun. Namun saya masih ikut bagian dari mengatur negeri ini, membuat negeri ini mungkin mudah-mudahan tambah baik. Dan itu saya pikirnya satu kepuasan tersendiri.
Jadi kalau orang tanya saya, mana yang paling bahagia di dalam hidup kamu? Saya tetap jawab, itu saya. Bentara.
Waktu saya di Kopassus, waktu saya di Gultor. Itu yang saya paling nikmati, di mana saya ikut menjadi bagian daripada Pak Sintong, mau mereorganisasi. di mana saya restructuring kalau bahasanya pandu sekarang itu, karena Kopassus itu dulu tidak punya spesialisasi.
Jadi Pak Sintong minta ke saya, karena di Gultor itu saya bikin ada spesialisasi menembak dan sebagainya. Sebagainya, saya bilang Pak Sintong, Pak, Bang, saya panggil dia, kalau Kopassus itu harus ada spesialisasinya, karena saya belajar di tempat lain, karena pengalaman-pengalaman operasi kami. Jadi ya Anda mau tanya apapun sekarang. privilege yang saya dapat di negeri ini tetapi yang paling saya nikmati menurut saya Komandan Detasmen 81 dan waktu membentuk itu dan sekali lagi buat Kartini dan semua ini adik-adik saya hadir dan teman-teman sahabat-sahabat semua yang dulu juga ada musuhin saya tapi saya pikir-pikir pasok our life Jadi kalau dulu orang pikir saya apa namanya sakit hati atau saya akan stres tidak karena saya senang lari Jadi kalau dulu saya sudah stres, saya lari aja 10 kilo, 15 kilo, keringat-keringat, lupa lagi ya mandi, ya tidur. Jadi make it simple, karena saya sekali lagi percaya yang di bawah langit ini semua ada waktunya.
Tidak ada kita yang bisa abadi. Jadi ayo kita bekerja sama, ayo kita bahu-membahu membangun negeri ini, apapun porsi kita. Saya dengan Rocky, misalnya beliau sangat keras menyerang pemerintah, menyerang presiden, it's okay.
apa-apa, dia bilang mau saya di interview, saya bilang oke interview mungkin karena kita tidak berkomunikasi tidak ada pemahaman dia mau minta interview siapa aja, saya bilang silahkan ya kalau saya bisa jawab, saya jawab kalau saya gak bisa jawab, ya saya gak jawab jadi teman-teman sekalian saya hanya ingin kesempatan ini ngajak kita, ayo kita semua jadi satu bangsa, yang padu yang satu dengan segala perbedaan kita khususnya lagi menghadapi keadaan yang uncertainty sejarah global ini sekarang Kita satu, kita sampaikan tadi, kita menanganin COVID itu pasti sudah begitu hebat, yang lain saya kira tidak akan sehebat itu. Tadi saya ada tiga wanita yang menurut saya yang sangat berkesan dalam perjalanan penanganan COVID ini, ada Ibu, mana Monika? Monika, where are you Monika? Monika, berdiri. Monika ini satu.
Monika, sini kamu. Monika. ada lagi dua damar, ada lagi siska.
Mereka ini yang awal-awal, ini Monika dari Harvard, terus kemudian Monika dari London, kemudian siska. Tiga perempuan ini yang membantu saya, ada tentu lagi Firman. Firman, di mana Firman?
Ada firman di sini yang membantu saya mendesain apa namanya, bagaimana menangani COVID-19 itu. Jadi, kalau Anda tanya Luhut itu hebat, saya tidak hebat. Yang hebat itu mereka-mereka ini. Karena... Tanpa data yang di-provide oleh si siapa namanya si Monika tidak bisa.
Dan ada satu perempuan lagi ini si siapa namanya si Jona yang itu jungkir balik mencari pertama-tama Jona berdiri. Jungkir balik mencari alat-alat kesehatan dalam keadaan kritis yang bekerja sama dengan Pak Budi Sandikin. Pak Budi mungkin boleh berdiri Mas Bud. Ya walaupun dia waktu itu dia belum menteri dia masih wakil menteri tapi. Kami betul-betul bekerjasama melakukannya semua.
Jadi saya terima kasih pada mereka juga yang telah bantu saya dalam banyak hal. Sehingga katanya saya populer. Tapi untuk saya tidak ingin jadi presiden atau calon wakil presiden.
Jadi saya boleh ngomong bebas. Terima kasih kepada semua teman-teman yang telah hadir. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Selamat datang. Pak, gak pingin ini pak, bedah buku di close the door pak. Nanti menakutkan lagi. Sama saya tuh tadi terkesan sekali dengan kata-kata Pak Luhut dan saya agak sedikit sirik dengan Ibu Kartini. Karena tadi ketika denger kayaknya enak banget ya kalau ngomong ya.
Luhut, gue mau bikin buku nih. Kalau gue begitu kan hilang. Enak aja, hakut-hakut. Oke, kita akan masuk ke acara seremoni peluncuran bukunya ya.
Untuk itu kami mengundang penulis Pak Norka Masardi. Kami juga mengundang tentunya tadi ya, orang dekat yang menjadi idea dibalik buku ini hadir. Dan juga menuliskan beberapa bab sehingga buku ini jadi personal sekali. Ibu Kartini Syahrif. Dan tentunya untuk menyerahkan buku ini mewakili penerbit buku kompas kami minta Mastra untuk kembali hadir.
Saya boleh minta tolong untuk pertama bukunya terlebih dahulu. Mas Dara untuk boleh menuliskan, memberikan tulisan yang sudah dibukukan ini kepada penulis terlebih dahulu dari sebelah sini. Mas Dara? Ya. Kepada...
Mas Norka, Mas Sardi kita berikan tepuk tangan Bapak Ibu sekalian. Buku ini cukup singkat, satu tahun setengah kurang lebih dituliskan. Hadir hari ini sebagai kado yang manis.
Dan kedua tentu kepada Ibu Kartini. Dari Ibu Kartini ke Pak Luhut kayaknya ya. Iya, nanti Ibu Kartini baru menyerahkan ke Pak Luhut. Baik, kita berikan tepuk tangan sekali lagi Bapak Ibu. Buku ini resmi diluncurkan dan diserahkan dari penerbit buku kompas kepada Pak Norca sebagai penulis dan juga Ibu Kartini Syarir.
Dan selanjutnya diserahkan kepada kakak terkasih sebagai hadiah, kado termamis di usia ke-75 tahun 2022 ini. Ibu karangan bunga yang menunjukkan semangatnya spirit merah putih sekali ya bunganya ya. Iya makanya. Nah oke kita akan foto dulu.
Bapak ibu sekalian mari kita sambut sekali lagi lahirnya buku dan juga biografi Luhut Binsar Pancaitan hari ini. Iya, terima kasih. Dengan ini artinya peluncuran buku sudah diluncurkan. Oh, sekali lagi, foto lagi, sekali lagi, silahkan. Saya mau nyempil padahal.
Di pojok bisa deh, di sini ya. Ntar saya crop. Ya sekali lagi berikan tepuk tangan yang luar biasa untuk peluncuran buku Luhut Geografi Luhut Binsar Panjaitan Setelah lama ditunggu-tunggu banyak yang kemudian berpikir Buku ini kapan ya ada gitu karena perjalanan 30 tahun di Beliter dan banyak sekali ya di berbagai bidang.
Pak Luhut juga sangat memperhatikan pemberdayaan perempuan. Semuanya nanti bisa dibaca dan dilihat di buku ini. Jadi yang penasaran ya dengan kehidupan Pak Lut sebenarnya dari kecil seperti apa, terus kenapa mungkin karakternya sekarang seperti ini, kenapa, didikannya seperti apa, teman-temannya siapa, semuanya ada di buku ini. Jadi ini sudah diluncurkan ya? Sudah resmi diluncurkan tapi sekarang kita akan sambung dengan diskusi buku.
Karena tadi seperti yang dikatakan Pak Lut, banyak sahabat yang hadir di sini. Dan kita ingin mendengar bagaimana sudut pandang mereka ya, melihat Pak Lut dengan segala hal yang telah dilakukan, dari sudut yang mungkin nanti berbeda-beda ya. Untuk itu saya undang Pak Nitya boleh untuk mempersiapkan kursinya.
Dan sambil dipersiapkan, jadi kita mau turun sebentar ke bawah ya. Di sini banyak sekali tokoh-tokoh yang hadir. Nanti kami mohon perkenanannya juga ketika dari atas panggung sudah selesai diskusinya. Untuk kita ke bawah ya. Iya betul dan kalau mau tanya jawab kebetulan Pak Luhutnya ada di sini kan ya.
Nah kesempatan untuk tanya jawab. Sambil dipersiapkan, jadi saya sebentar saya mengambil bukunya dulu ya. Saya tinggal dulu, kan ini MC tenar. Oh ada moderator ya.
Ada moderator ya. Oke, Pak Roki gak pengen ngundang saya ke tempat Bapak Pak? Gak saya ke tempat Bapak gitu Pak, sekali-kali Pak gitu Pak?
Pasti ya Pak ya? Nanti saya serang pemerintah Pak. Oke, tapi ini jujur ya Wad, saat saya lihat Pak Luhut ada di Padpak Rokigerung kayaknya indah banget gitu Pak, luar biasa banget gitu Pak.
Tunggu ke tangan dong, luar biasa. Yang tayang ya, gak tau sebelum tayang ngapain saya, tapi yang tayang sih. luar biasa.
Oke, habis ini kita akan melakukan narasi dan tanya jawab. Jadi, saya akan nanti mengundang Glory. Iya, karena tadi saya tanya-tanya, ini kayaknya kursinya lebih satu. Berarti Dedy nemenin saya dong disini. Oh gitu?
Prank ya? Enggak. Ya Bapak Ibu sekalian.
Udah gak ada kontraknya. Datang diculik pagi-pagi. Profesional loh.
Randon baru dapet. Itu ya. Tentunya disini kursi-kursi sudah siap.
Saatnya kita mengundang sejumlah tokoh-tokoh yang akan bersama-sama ya. Berbincang dengan kita disini. Dan saya mau mengundang satu persatu dulu untuk hadir. Hadir Legend TNI Penawirawan Sintong Hapanjaitan. Pak Sintong, mohon izin untuk boleh bergabung di atas panggung.
Beliau ini adalah Danjen Kopassus tahun 1985 sampai 1987 dan Pangdam Sembilan Udayana tahun 1988 hingga 1992. Kita berikan tepuk tangan sekali lagi untuk Legend TNI Sintong Hapanjaitan. Dan selanjutnya kami mengundang Bapak Insinyur Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Pak Budi apa kabar? Kami juga mengundang Bapak Garibaldi Tohir, Bapak Boy Tohir, Presiden Direktur PTA Daro Energi Indonesia, TBK.
Untuk boleh bergabung, Pak. Dan tentunya kami juga mengundang Bung Reki Gerung, aktivis, salah seorang pendiri setara institut juga. Saya sampai gerogi loh memanggil beliau ini.
Sebelah sini silahkan Pak Roki. Karena kursinya satu kosong. Ini saya beneran ada di sini. Bagaimana Dad?
Iya, boleh ya? Oh boleh. Demenin ya? Tapi saya gak punya itu ya. Jadi saya gak tau mau ngapain.
Oke, silahkan. Selamat siang Bapak-Bapak sekalian. Terima kasih sudah bergabung. Karena tahu kemana hidup ini mengalir atau juga bermuara. Itulah misteri of life.
Dan selama 30 tahun ya kurang lebih sebagai prajurit komando sampai menjadi jenderal kehormatan. Banyak sekali sepak terjang yang membentuk karakter profesionalitas Pak Luhut Bin Sarpanjaitan hingga menjadi sosok saat ini. Untuk itu saya ingin memulainya dengan Pak Sintong bercerita terlebih dahulu. Bagaimana Pak Luhut di era militer. Boleh Pak Sintong ya untuk kita melihat bagaimana.
karakter disitu dibentuk profesionalitas loyalitas itu semuanya dan masa yang paling bahagia tadi kata Pak Luhut silahkan Pak Sintang baiklah saudara-saudara sekalian pada saat ini sebenarnya saya gak siap gak siap karena saya terima buku ini Baru 4 hari, saya enggak tahu bahwa saya juga sebagai pembahas, karena waktu itu masih kurang persiapan saya, belum baca. Tapi namun demikian, saya pasti menjiwai sebuah buku ini, karena saya tahu semua apa yang dikerjakan Pak Luhutin ini. Jadi saya tidak akan baca buku ini, tapi akan saya jelaskan bahwa dasar belakang buku ini dimana. Memang Pak Luhut ini satu yang luar biasa. Waktu itu memang saya juga saya buka sekarang bahwa saya sudah berkali-kali bicara dengan baik Pak Trisno, baik Pak Edi Sederajat, Pak Luhut ini bukan karena dia panjaitan Pak, bukan saya tidak apa, saya tidak, Bapak sudah tahu karena komandan saya itu lama Edi Sederajat itu dan Faisal Tanjung.
Jadi tokoh-tokohnya itu sebenarnya ini sama-sama dengan saya di Kopassus. Sama-sama menderita, sama-sama merasakan aktivitas operasi, jadi kami mempunyai hubungan yang sangat bagus. Jadi tolonglah ini, mereka semua menyerah. Nah dari sini saya tahu bahwa wakasian juga kawan ini.
Bagaimana nanti nasibnya ini. Tapi setelah saya simpulkan sampai sekarang, belum pernah Pak Duhuti ini terlambat mengenai pangkatnya dari mulai lena 2 Jum'at saya tahun 70 sampai keluar dari Kopassus. Hanya selalu dia di pinggir, tapi dia kopak terus dia merejalela dulu, karena dia semua maket dia, semua komedar maket dia, udah jelas gitu, semua tau itu. Nanti akan saya ceritakan sedikit aja nanti.
Bagaimana cara berpikirnya, bagaimana melaksanakan, mungkin beliau itu sekarang nanti baru tahu, oh iya. Karena apa dikerjakannya itu saya ingat dan dia enggak ingat lagi mungkin, karena itu enggak dipikirkan. Tapi sekarang akan saya buka lagi nanti bagaimana ini pekerjaannya Luhut Bin Jarman Jayetan ini begitu spektakulernya.
Nah, tadi kembali kepada ini, jabatan. Kalau di Kopassus dia bebas, terus dia gak ada gangguan. Karena semua di Kopassus itu masih pemenang komandan jenderal.
Tapi kalau sudah memulai kolonel ke atas, itu nomor satu yang menentukan. Ya atau boleh. Tapi ya boleh untuk pangkat di mana siapa yang mempunyai persyaratan yang ini yang sudah. Pas, dan di situ kemandaan itu tidak terlalu mudah, tidak soal. Tapi mengenai jabatan, itu adalah permasalahan.
Jadi kesimpulannya selama ini Pak Dut ini diberi jabatan dipinggir-pinggir. Kalau orang seperti ya kita kaya ini ya, langsung dari grup dan gen terus langsung ke atas. Kalau Pak Luti ini dari apa terus masuk ke staff, habis itu. itu masuk wadah dan peseni dan peseni tepengkaknya sampai nampak penuh juga tapi dia tidak pernah mempunyai kemampuan apa wewenang sebagai para panggung Akan penglima-penglima yang lain Jadi Kelasnya lah, kelas 2 lah itu sebenarnya Tapi makanya gak pernah dia terlambat Karena tidak ada Orang yang mengatakan bahwa dia gak baik Tapi begitu Dia ajarkan kata dia Yang menjadi pengalaman yang ter, apa dulu saya, waktu itu saya komandan, saya Panglima Udayana.
Saya diperintahkan dulu akan bersiap berdiri menjadi asisten operasi Pangap. Yang Panglimanya waktu itu Pak Elisudrajat, itu yang paling dekat dengan saya. Mereka ini bekas-bekas kolonel. Disekolahkan dan juga dinilai siapa kira-kira kolonel-kolonel yang baik untuk jabatan jangkaan berikutnya.
Saya ingat itu, dekat peristiwa Dili waktu itu, saya masih... Di situ, sehingga peristiwa ini itu, saya tidak lihat kejadiannya suguh-suguh waktu itu, saya sedang dimaglang sama-sama mereka ini. Mungkin Pak Luhut ingat. Setelah itu, dia akan pemilihan.
Ini para perwira ini yang terbagu siapa? Nomor satu Pak Luhut. Nomor satu. Wah saya pikir, udah hut, buru nomor 1 siapa lagi yang apanya, nanti pilihlah nanti, karena kejadian kolonial kayak break-gen.
Paling kali pikir, kasdam dimana ini kawan ini, antara kasdam 1 sampai 17. Ternyata begitu keluar tanda pangkatnya, tanda lulusnya penempatan jabatan, Lut Bin Sar Pansyaitan itu ditempatkan di Wadan Pusenib. Jabatan berikjen, boleh. Tapi gak dibahas Pangdam 1, 2, 3, 4. Kan ini tokoh-tokoh semua itu. Atau Wadan Jir Kopassus. Ini gak diberi.
Jadi pindahnya dia dari Kopassus. Karena belum masuk jadi golongan-golongan jenderal, masih untuk kolonel, jadi masih kemana-mana dikirim. Tapi kalau untuk jenderal, itulah jabatan yang ada. Jabatan yang paling tidak disukai oleh semua orang-orang yang ada di situ adalah itu, yang menurut pakat itu.
Lut Bin Sarpanjaitan dapat lagi pakat itu. Saya lihat dari muka saya itu pasti gak senang dia. Naik sih naik, naik pangkat lagi. Itu urusan lagi di pangkat, setelah dihitung-hitung, biasanya kan pindah dulu, naiklah dia ke dan pusen Ip, dari-dari jembatannya yang lama itu naik ke satu tingkat, tapi dia kemudian dari sekolah lagi, sekolah pendidikan lagi di Bandung. Setelah itu lagi.
Ini apaan ya, dua proses-proses yang panjang. Setelah itu kemana lagi kawan ini, saya pikir. Udah bintang dua.
Bintang dua juga, begitu juga. Apakah Panglima, apakah Pangkostrat, banyak itu jawabannya jabatan yang bergensi. Tahu jabatannya. Kodiklab lagi, jembatan bintang 3, bintangnya ada juga naik sama dengan lain-lain itu.
Di sini dapat kita simpulkan bahwa orang ini sebetulnya tidak pernah tidak naik pangkat. Tapi setiap naik pangkat dia mungkin naik. Jadi hebat juga ya Beritakan-beritakan sekali lagi Luar biasa Sebuah perjalanan yang luar biasa Tadi Pak Sintong bilang belum baca bukunya saja Menceritakannya sudah alur Iya, nanti kalau keterusan Bukunya gak laku ini Kalau gitu kita tahan dulu Pak Sintong Nanti kita kembali membahas itu lagi Mungkin karena ini menarik Pak Boy Saya izin dulu sebentar Ini menarik sekali Menurut saya disini ada Pak Budi Saya kenal baik dengan beliau Nah Pak Budi, sebelum nanti bercerita, mungkin boleh Pak Budi, mikrofonnya, saya cuma mau satu kata. Pak Luhut itu kalau di, satu kata itu apa Pak?
Pak Luhut. Pak Luhut kalau dikasih satu kata. Betul, yang kencang Pak.
Galak. Galak. Oke, nah ini dari Menteri Kesehatan. Saya pengen dengar dari Rocky Gerung.
Bang Roky Pak Luhut kalau satu kata apa pak? Pak pikir dulu pak bener, ini keselamatan kita bersama pak. Pikir-pikir pak, serius pikir dulu pak.
Atau boleh gak saya kasih sedikit bahasa depannya ya? Kalau bunga, bunga apa Pak Luhut itu? Ah di alus-alusin. Ada di sini, ketahuan belum baca juga ya? Belum, baru dapet.
Bunga, bunga mawar. Haa itu betul. Apa mawar pak? Eh tunggu-tunggu, mawar itu wangi tapi dia berduri tuh. Dan ada lagunya dari grup Poison judulnya Every Rose Has Its Storm.
Setiap mawar pasti ada durinya. Tapi saya ambil bagian mawarnya aja. Terima kasih. Itu bener loh, bener ya.
Di buku ini ditulis kalau bunga paluhut itu bunga mawar berah. Pas sekali, nah karena tadi sudah nyinggung-nyinggung itu dan saya boleh kembali lagi ke tengah ya. Karena tadi kan dari sisi militer kita sambung sedikit. Paluhut juga adalah panglima perusahaan.
Orang melawan COVID-19. Nah saya boleh menyambung ini ke Pak Budi. Pak Man of Action, itu yang selalu kita dengar ya. Dan juga Pak Boy nanti boleh untuk menyambung juga. Apa yang dilihat ketika pandemi COVID-19 itu melanda Indonesia?
Pak Luhut ya kalau diberi tantangan beliau ini langsung bersemangat gitu ya untuk mengatasi dan mencari solusinya. Man of action. Silahkan Pak Budi.
Saya kasih perspektif yang sangat berbeda Pak Luhut bukan sebagai tentara. Jadi saya kerja sama Pak Luhut, saya terkejut juga kok beliau dulu pernah jadi tentara komandan Gultor Kopassus. Karena waktu kerja dengan beliau menangani Covid-19, beliau tuh orangnya sangat apa ya, compassionate bahasa Inggris. Kasih sayang, Budi kita bekerja masih dengan hati nih, banyak sekali yang mati. Kerjanya tuh dari tiap hari, siang, malam, weekend.
Karena beliau benar-benar saya lihat ya kerjanya ingin menyelamatkan orang lain. Padahal saya pikir waktu jadi tentara kan kopasus kerjanya nembak-nembakin orang gitu kan saya pikirnya gitu. Terima kasih.
Oh ini benar-benar antitesa dengan beliau sebagai tentara ya. Very compassionate. Itu aku ngeliat yang pertama.
Yang kedua. Tentara Kopassus saya kebayangnya. Itu kan sangat intuitif kan. Instink kan. Karena waktunya pendek.
Dia nyerang ada tugas cepat. Semuanya adjustment dia bikin cepat. Mungkin kesempatan mikirnya enggak.
gak bisa lama-lama kan, beda dengan yang di teritorial bisa mikir lama Pak Lut itu kalau ngambil keputusan, dia tuh analisanya dalam banget itu Monica itu dari Harvard Medical School Harvard Public Health School. Si mana tadi Damar itu PhD. Sekarang kerja buat saya itu bertiga. Siska juga ya.
Itu mereka itu very analytical. Paluhut kita kalau meeting itu selalu undang profesor-profesor epidemiologis itu dari UGM, dari UNAIR, dari UI untuk dengerin kasih pendapat. Itu bukan tipikal Kopassus kalau dia mau nyerang, mau gerbak musuh kan. Apa dia tanya-tanya dulu tuh orang-orang sipil, menurut pendapat kamu gimana pendapat kamu?
Ini kan langsung nyerang. Jadi itu kontradiksi yang kedua yang saya lihat. dia itu sangat attentive, sangat listen, dengar ke orang lain sebelum ngambil keputusan dan sangat analytical buat saya sebagai yang non-militer.
Saya sempat bertanya-tanya, oh kenapa seperti itu? Ada uniknya. Nah unik ketiga juga yang akhirnya saya dapat jawaban.
Saya ketemu kepala BNPB, Lieutenant General juga. Suatu saat Pak Luhut datang ke Surabaya sama saya, Pak Luhut kan sama teman-temannya baik, karena udah tua-tua dikumpulin, karena Pak Luhut teman-teman dan semua yang tua-tua itu, saya duduk sama beliau. Ini dulu Pak Luhut gimana? Kita interview. Wah Pak Luhut itu, dulu digampar-gamparin kita.
Gampar. Gapapa ya pak ya, Pak Lut gapapa ya. Dan paling terkenal tendangan My Gary gitu ya.
Saya kan kecil pak main CS. Walaupun saya bintang 2 saya kecil. Jadi saya kalau berdiri saya jaga jarak tuh.
Kalau gak saya ditedang terpelanting saya. Walaupun saya bintang 2. Dan saya herannya semua digampar kecuali yang duduk di sebelahnya. Hinsa Siburian. Semua digampar sampe Hinsa Siburian benti itu.
Pak Hinsa itu sama-sama saya komisaris di Freeport. Jadi saya tanya kenapa? Hinsa Subrian gak pernah digampar sama Pak Lutut Gitu kan Saya tanya-tanya gara-gara borunya sama Jadi saya sering dapet pertanyaan Kenapa Pak Lutut sayang sama Menkes Dia heran kan bukan orang Badang Oh ternyata karena istri saya si Matupak Mungkin begitu terima kasih Itu rahasianya, jadi mau masuk keluarga mana habis ini Dar?
Kayaknya aman ya kalau gitu ya. Pak Boy, boleh dong Pak. Tadi man of action tadi Pak, pandangan Bapak. Untuk saya sebagai pengusaha dan swasta saya melihat, saya bilang sama Buker bahwa Pak Luhut ini pemimpin komplit. Jadi beliau bisa jadi kawan, bisa jadi kakak, bisa jadi mentor.
Dan yang saya selalu kagumi terhadap Pak Lohutu pertama confidence-nya, pedenya gitu ya. Saya belajar banyak dari Pak Luhut, terutama mungkin on the last 5-6 years waktu kita ada kebetulan kita ada kerjasama dengan perusahaan Tiongkok, dimana Pak Luhut sering selalu membimbing saya gitu pertama Pak Luhut selalu mengutamakan kepentingan nasional nasional interest untuk Pak Luhut to come first gitu dan saya mengalami sendiri bahwa Waktu kita pergi ke Tiongkok sama Jonah, sama Pandu ya, itu beliau selalu bilang, Boy, waktu kita nego sama negara Tiongkok, kamu harus firm bahwa kita ini bukan Republik Banana. Itu Pak Luhut selalu bilang gitu, kita bukan Republik Banana. Jadi waktu kita ini negara besar gitu, padahal yang kita hadapikan. kan pengusaha-pengusaha luar biasa besar di Tiongkok gitu satu itu kedua memang saya belajar banyak juga jadi waktu negosiasi dengan perusahaan-perusahaan Tiongkok ini kan umumnya mereka karena memang size-nya itu besar mereka menganggap perusahaan-perusahaan Indonesia itu yang memang kalau di compare dari size kita kecil gitu tapi Pak Luhut bilang jangan mau kalah kamu gitu nego dulu ya kan Istilahnya kita harus, karena memang usaha kamu di Indonesia kamu harus minta mayoritas.
Jangan mau kamu kecil-kecil gitu. Dan kedua yang saya lihat memang betul-betul Pak Luhut itu selalu memberi kepercayaan kepada kita-kita yang muda-muda. Dan itulah menurut saya kehebatan Pak Luhut. apa namanya timnya yang begitu komplit jadi saya pendapat sekali dengan Pak Luhut bahwa Pak Luhut itu hebat karena memang timnya juga hebat bagaimana Pak Luhut memimpin memilih memilih staff-staffnya itu luar biasa kebetulan saya juga memang saya lebih dekat duluan sama Bukar sebenarnya sama almarhum Bang Sahrir gitu saya ingat Pandu masih kecil tetapi Tapi tentunya tadi saya bisik-bisik di meja, saya kadang tentunya bukan iri ya tetapi kagum gitu bagaimana Pak Luwo itu benar-benar terhadap adiknya dan bagaimana Buker itu benar-benar sayang dan hormat dan mengagumi abangnya.
So itu yang bisa jadi contoh untuk kita-kita ya gitu. Dan saya lihat dengan mata kepala sendiri ini yang namanya Pandu adik saya, bagaimana Pak Luhut itu sayangnya luar biasa tetapi kadang juga tegas, kadang juga apa namanya. sebagai tulangnya kadang juga jujur aja minta tolong ke saya kamu omongin Tupandu gitu jadi emang saya salutlah sama Pak Luhut ya yang dulu memang waktu saya sering sering main di Kopassus, saya hanya mendengar nama Luhut Binsar Panjaitan, tetapi Alhamdulillah saya bisa lebih mengenal Pak Luhut lebih dekat. Iya, Bapak Boy, luar biasa. Nah, yang ini saya serahkan ke Deddy deh, untuk Pandu.
Saya walk out. Gimana? Saya walk out. Bukan, bukan, bukan gitu. Saya gak ada masalah dengan Pak Roky Girungnya, gak ada masalah.
Cuman kan kita tahu era sekarang itu semuanya megang handphone ya. Saya cuman menganggap. gak mau beliau salah ngomong, saya satu frame satu TikTok. Janji-janji gak keluarin handphone, gak keluarin handphone.
Silahkan Pak Rokit. Oke. Close the door, open your mind.
Saya mungkin mayoritas disini, kalian minoritas. Karena orang merasa aneh ada Rocky Gerung disini. Dan ini, ini sebetulnya ILC.
Ini Luhut Club. Dan secara intuitif saya tahu bahwa yang berkumpul disini menyebabkan bangsa ini surplus IQ. Ya, memang saya pengkritik utama Presiden Jokowi, Yunto Pak Luhut, Yunto Pak Mahfud MD.
Iya, sampai sekarang juga masih begitu. Tapi saya kritik dengan basis argumen, bukan sentimen. Itu yang ingin saya aktifkan dalam politik Indonesia. Ucapkan argumenmu, jangan simpan sentimen. ilmu kan itu prinsip juga dalam militer begitu kan Pak Sintongo yang disebut Army readiness kesiapsiagaan tentara jadi bagi saya waktu saya undang Pak Luhut Orang merasa ada apa, Rok?
Saya bilang saya mau bertengkar dengan Pak Luhut. Kenapa? Karena pikiran hanya disebut pikiran kalau dipertengkarkan.
Kalau Anda punya pikiran dan tidak ada yang membantah pikiran Anda, itu artinya Anda sedang berdoa, nggak boleh diganggu tuh. Itu bedanya berpikir dan berdoa. Jadi saya membaca buku itu dan saya terpukau dan terpikat dengan perspektif Gita yang adalah keponakan dari Pak Luhut. Buat cerita tangan kaki, saya kenal Gita ketika dia masih bayi, saya kenal Pak Luhut ketika dia masih kecil dan nakal. Dan sekarang tambah nakal dia.
Jadi saya akrab dengan keluarga ini, Pak Syari itu teman diskusi saya, Pak Syari itu kalau berdebat dengan saya itu sampai, ah lu rock, lu gila, lu salah. Tapi itu tradisi di kita, jadi saya sebetulnya terbawa pada tradisi keluarga dokter Syari. itu udah begitu dong karena itu kemudian saya berupaya untuk memahami watak Pak Luhut bukan apa yang ditanya oleh wartawan tapi apa yang diterangkan oleh kita itu.
Kita menemukan satu ide yang gak pernah dilihat orang. Bahwa leadership itu diuji dua kali di publik dan dalam batin diri orang itu. Dan itu yang menerangkan pada kita bahwa kita butuh orang yang paham tentang arah tapi sekaligus mampu untuk menyusupkan dimensi emosinya pada tim. Dan saya kira Pak Luhut memberif timnya yang pintar-pintar itu. bukan sekedar dengan logik tapi juga dengan passion sehingga saya terkejut kok Pak Luhut ada tiga perempuan yang mengasuh kementerian itu dan menghasilkan kebijakan yang ethics of care dalam teori feminis namanya kan kita mengasuh soal covid kemarin itu seolah-olah kita hanya lihat data yang diucapkan terus-menerus oleh pemerintah begini naik turun bukan bukan itu pokoknya tapi di asur dengan feminis point of view itu jadi saya berterima kasih terima kasih karena ada tiga perempuan pinter yang mengucapkan kembali kepentingan rahim perempuan sebagai pengasuh pikiran bangsa.
Itu poin pertama saya. Yang kedua, reputasi Pak Lu tentu ada di dalam sorotan kamera kontroversis. Kontroversi terus-menerus. Tapi kelihatannya dia gak peduli.
Karena dia tahu arahnya. Tadi saya sebut beliau seperti bunga mawar. Sekarang saya koreksi. Dia seperti bunga matahari itu.
Kemana pun ditanam, dia akan mencari matahari ke arah timur. Jadi ada yang final pada pikiran Pak Luhut, yaitu bangsa negeri persahabatan, etik. Keadaan ini yang membuat saya berpikir bahwa memang bangsa ini dituntun oleh seseorang yang lagi memegang tongkat Nabi Musa.
Itu yang saya maksudkan. Karena orang membutuhkan perspektif. Nabi Musa tidak pernah menolak untuk memimpin. Karena nanti dia gak tau, dia bisa belang gak itu laut.
Dia ragu. Tapi dia tau dia harus menuju sesuatu. Tanah perjanjian.
Itu Israel. Kegamangan orang, begitu dapat perintah, dia mesti ukur dulu pasukannya cukup atau enggak. Tapi Pak Luhut menganggap bahwa saya bisa.
Karena itu waktu saya bilang, Pak Luhut Anda sebetulnya bukan sekedar disebut mampu menyelesaikan masalah, tapi tahu apa yang harus diucapkan pada saat orang tidak punya pengertian tentang satu kasus. Ada Pak Mahfud MD, juga teman baik saya tuh. Sama-sama waktu beliau masih pinter.
Emang maksud saya masih pinter? Kadang-kadang kejeniusan Pak Luhut tersaring oleh bahasa yang mesti dia ucapkan pada publik. Pinter tetap, IQ-nya tetap.
Karena itu saya juga akan bertemu dengan Pak Maf. untuk bicara. Jadi buat saya gak ada problem.
Karena selama kita bertengkar di dalam kondisi berpikir, bangsa ini tumbuh. Bukankah pendiri bangsa ini adalah orang yang doyan bertengkar? Membaca buku.
Haji Agus Salem Sultan Syahir. takhrir, natsir, segala macam itu orang yang membaca buku dan mampu bertengkar berjam-jam, tetap bersahabat. Jadi, wilayah ini yang hilang yang ingin saya pulihkan sebetulnya. Yang terakhir mungkin, supaya kita masih bisa bercakap-cakap.
Tentu ini biografi, versi teman-teman dekat. Saya membayangkan ada versi lain, luhut di mata lawan-lawan politiknya. Yes. Karena buat saya, lawan yang jujur lebih bermutu daripada kawan yang hipokrit.
Oke sebelum berlanjut ke arah yang bisa menimbulkan jelik saya berhenti dulu disini, terima kasih. Kalau yang tadi malah viral. Iya, iya. Saya cuma gak mau satu frame aja di TikTok.
Karena tadi Pak Roky Gerung sudah menyebutkan di sini ILC ya. Ini Luhut Club. Saya mau ke anggota club yang lain.
Boleh ya? Saya ke bawah sedikit. Pak Mahfud MD.
Boleh sedikit kasih komentar, Pak? Karena ini sudah persis di sebelah Pak Luhut. Tadi sudah disinggung-singgung. Kayaknya harus berbalas nih, Pak. Ya terima kasih, saya kenal dengan Pak Luhut pertama kali itu waktu masuk kabinetnya Gus Tur.
Baik, seperti tadi ceritakan, bisa jadi teman, bisa jadi kakak, bisa jadi penasehat, bisa jadi pendukung dan sebagainya. Tapi begini, pada bulan Desember tahun 2020, saya pergi ke Riyad. Bersama Pak Luhut, Pak Luhut lewat Tokyo terus ke Dubai terus ketemu dirian.
Nah ketika saya ketemu dirian, turun dirian, itu ketemu dua orang. Sudah tua gitu, sudah agak apa namanya... Bungkuk-bungkuk tua sekali.
Bapak mau ke mana? Saya mau umroh. Saya sudah lama sekali berkita-kita ingin umroh.
Tidak bisa, tidak punya uang. Sekarang kok bisa? Saya disuruh ke sini oleh Pak Luhut katanya.
Jadi Pak Luhut itu temannya tentara Pak di daerah Jawa Barat sana, entah di mana. Tapi saya ketemu di Mekah. Saya diumrohkan oleh Pak Luhut. Dia panggatnya masih rendah sekali karena katanya pernah anak Bapak Luhut. Maka menjadi bertemu ketika kemarin beberapa waktu lalu saya berita pembantunya Pak Luhut dan Bulu...
Pak Luhut tentu saja yang sudah 30 tahun lebih ikut Pak Luhut ingin pulang ke kampungnya disuruh umroh oleh Pak Luhut tapi yang bersangkutan enggak siap kamu Islam gak mau umroh sudah berangkat umroh saya ongkosi gitu nah itu bisa ditafsirkan sendiri Bagaimana baiknya Pak Luhut kepada orang itu tapi Pak Luhut juga bisa tunduk kepada saya suatu saat hai hai Entah siapa ada orang gitu punya utang ke negara kan, datang ke Pak Luhut, minta dibebaskan. Pak Luhut telepon, ini kan sudah saya Pak Mahfudin, enggak Pak Luhut ini harus ditegi lagi. Loh kan sudah segini pengadilannya, enggak bisa.
Jadi menurut Pak Mahfud, gak bisa. Harus saya takih dulu, harus saya buruh dulu. Orang suruh menghadap saya.
Ya sudah, kalau Pak Mahfud begitu, saya tunduk. Jadi kalau urusan penegakan hukum, dia bilang. Sudah, kalau Pak Mahfud begitu, sudah, teruskan saja katanya. Itu sajalah.
Iya, terima kasih banyak Pak Mahfud. Gimana Dad, kita lanjut ya, boleh ya? Ke bawah sedikit, saya kesini dulu.
Pak Sidarto Opadarto, Watim Press, kita minta pendapat juga. Ya Pak Luhut itu saya kenal sebagai seorang petarung ya. Petarung dari segala zaman.
Kebetulan DCM waktu beliau di Tamsari Singapura itu keluarga saya, Pak. DCM-nya Luhut. Dia bilang bahwa sekali ini saya miliki duta besar yang smart.
Itu komentar daripada my family tentang Pak Lut. Saya setuju apa yang disampaikan oleh para pembicara tadi. Kita bangsa ini butuh seorang Lut Binsar Peseitan. Terima kasih. Karena sudah dekat langsung saja Pak Hadi Cahyanto.
Boleh Pak. Terima kasih sebetulnya saya juniornya Pak Luhut kan tidak boleh memberi komentar ya. Rating 70 sama rating 86, 16 tahun perbedaan saya dengan Pak Luhut.
Sejak saya menjadi perwira tahun 86 saya sudah mengenal Pak Luhut. Tapi pada waktu itu Pak Luhut belum mengenal saya. Pak Luhut baru mengenal saya ketika saya menjadi sekretaris militer presiden, Pak. Di situ kami berkecimpung bersama-sama Pak Luhut. Namun satu yang saya lihat Pak Luhut mulai dari pasukan khusus.
Sampai menjadi menteri pada waktu itu adalah satu, keputusan lapangan ini yang selalu dibawa. Kalau kita biasa di militer itu adalah kirpat, perkiraan cepat, dan berani dalam mengambil keputusan. Saya membantu Pak Lut pada waktu...
melaksanakan operasi vaksinasi COVID-19 dan hampir setiap hari ditelpon oleh Pak Lut ketika saya di lapangan. Hadi, kau ada di mana? Saya ada di Bali, Pak. Sedang apa? Sedang vaksinasi, Pak.
Oke, bagus. Lanjutkan. Demikian, terima kasih. Terima kasih. Mungkin yang terakhir nih.
Oke boleh, kita kesini. Saya sebenarnya mau ke ibu dulu sebentar ya. Oh boleh, boleh. Kita perlu suara atau pendapat dari perempuan juga. Karena Pak Luhut ini adalah juga yang sangat memperhatikan pemberdayaan.
perempuan dan hatinya itu juga untuk bagaimana perempuan-perempuan Indonesia itu bisa berdidikdaya juga. Ibu silahkan. Terima kasih kehormatan untuk saya bisa bersaksi atas Pak Luhut. Saya mengenal beliau ketika mendukung Pak Jokowi di DKI tahun 2011 ya, menjelang 2012. Dan kami bergabung dalam relawan Pak Luhut punya Bravo, kami sendiri punya Jokowi Center dan bergabung, merge bersama dan tim-tim kami juga yang menjadi think tank bergabung. Dari situ saya melihat bahwa saya bisa mengambil kesimpulan bagaimana Pak Luhut bekerja dan mengambil langkah.
Seperti tadi Pak Menkes sudah katakan, Babliow sortir tim dulu. Jadi saya lihat banyak dokter-dokter Pak Luhut zaman dulu, Pak Luhut. Membantu kita menjadi think tank, kemudian kita juga hire konsultan untuk...
untuk riset, untuk melihat apa yang dibutuhkan DKI, pandangan mereka terhadap pemimpin yang dicari itu seperti apa. Jadi sebelum kita melangkah, melakukan strategi penggalangan, sebelumnya adalah data nomor satu. Jadi benar yang dikatakan tadi Pak. Menkes itu betul sekali bahwa Pak Luhut ini di dalam melakukan action tidak cepat tetapi tidak sembrono tidak sembarangan dan saya percaya yang dilakukan dalam pengatasan COVID-19 kemarin.
Sama juga, walaupun beliau bukan seorang dokter, beliau juga pada saat awal itu vaksin juga masih belum jelas ya, apakah kita bisa menghasilkan efekasi yang cukup bagus untuk masyarakat, tetapi decision untuk mendorong Pak Erik Thohir misalnya ya, mulai dealing vaksin. Terima kasih. dengan China dan sebagainya itu sebuah keberanian yang luar biasa yang tentunya dihasilkan dari riset yang cukup komprehensif, cepat tetapi kalau saya bilang calculated risk lah, calculated risk dan itu memang di dalam mungkin seperti Pak Sintong katakan di dalam peperangan dengan waktu yang singkat tetapi juga tidak boleh sembrono itulah modal Pak Luhut untuk bekerja. Jadi that's how I know Pak Luhut Terima kasih Terima kasih Ibu Putri Kita ke sebelah kini ya Karena kita dari tadi sudah dengar Dari banyak sahabat Tapi belum dari keluarga Silahkan Kita langsung ke siapanya Ibu Kartini dong Ibu Kartini langsung Ini adalah kado manis Dituliskan buku ini satu tahun setengah ya Kurang lebih Apa yang sosok-sosok Dari Pak Luhut sisi keluarga yang Ibu bisa ceritakan hari ini. Silakan.
Oke. Terima kasih ya Glory. Saya suka menulis.
dan menulis apa saja yang saya pikirkan. Dua tahun yang lalu, saya ingin memberi hadiah buat abang saya. Saya ingin sesuatu yang merupakan legacy dari dia yang nantinya bisa di...
dibagi kepada istri kepada anak kepada cucu kepada keponakan dan kepada saudara-saudara yang mengasihi termasuk juga mungkin lawan-lawan politiknya karena saya selalu percaya Saya seperti saya selalu bicara dengan Rocky, ide itu selalu ada kakinya. Itu adalah sesuatu yang punya print di dalam hidup. Pak Luhut memiliki segala hal. Tapi saya kira sebagai adiknya saya ingin menulis mengenai abang saya.
Karena saya sayang sekali. Jadi saya ingin kasih hadiah yang khusus. selalu bilang kau bisa nulis, kau nulis selalu nyuruh saya nulis saya bilang dulu waktu masih muda saya suka nulis artikel tapi saya tidak ingin lagi menulis di suruh-suruh saya hanya mau menulis apa yang saya suka tulis, apa yang saya pikirkan dan saya seperti abang saya selalu memikirkan kami, saya dan Doris Ruth adik saya, Timbo saya juga ingin berbagi memikirkan mengenai abang saya bercerita mengenai abang saya abang saya, karena itu adalah legasi dia.
Saya tidak punya pretensi bahwa buku ini nanti akan laris manis, tidak. Saya tidak peduli soal itu. Yang saya peduli adalah bahwa saya memberikan hadiah, adik-adik saya juga ikut, keponakan-keponakan, ikut urun rembuk, menyatakan sayang, menyatakan kasih kami pada abang kami. Dan itu kami tunjukkan dalam buku ini. dengan segala kekurangan dan kelebihannya.
Saya hanya bercerita dibantu oleh Mas Norca di sini, terima kasih Mas Norca, untuk menorehkan mengenai pengalaman-pengalaman, tanggapan-tanggapan, pandangan-pandangan saya yang saya anggap Pak Luhut ini adalah seseorang yang sangat walaupun tidak paham konsep pemberdayaan perempuan, tapi sangat tidak paham. Dan sering ada kekacauan ya disitu Tetapi sangat peduli Mengenai perempuan Dan dimulai dari istri Termasuk ikatan suami takut istri Dan dengan adik Kau masuk isti Ikatan suami takut istri Jadi Dan juga kepada adik-adik, adik-adiknya ada tiga perempuan dan kami semua sudah janda. Kerja kami kalau bisa, sekalipun abang kami benar, selalu kami ingin melawan.
meskipun sangat jengkel Bang Luhut ini jengkel tapi dia selalu sabar dengan kami dan itu luar biasa ya sebagai dia dididik tentara dan kami adik-adiknya KUI dan ITB yang biasa harus terus ya, kalau bisa kritik terus nah ini yang saya bilang luar biasa dari Bang Luhut dan mempunyai cucu-cucu yang hebat-hebat, punya kepenangan yang hebat-hebat, yang terus selalu membantah seperti kata Rocky kita itu akan menjadi sangat cerdas kalau kita berantem terus, di dalam logika jadi saya kira itu yang saya mau sampaikan, sekali lagi selamat ulang tahun buat Abang we love you so much Terima kasih Ibu Kert Bisa kita lihat ya Dari ceritanya Ibu Kartini bahwa keluarga ini sangat menegangkan Dedy, kalau sudah keluarga mau lanjut ke ponakan gak? Oh boleh, boleh. Kita kesini dong ya. Ponakan yang mana nih?
Mas Pandu, ya. Silahkan Mas Pandu. Itu benar kata Mas Dedy tadi, keluarga ini benar-benar menegangkan.
Jadi ini memang ibu saya punya ide tahun lalu, saya ditelepon, Duh aku mau nulis buku tentang pamanmu, kau jangan bilang-bilang pamanmu ya, kau support ya, iya. Pasti jadi, insyaallah pasti jadi. Dan waktu kita dapat bukunya memang luar biasa kerjaan ibu, karena dikerjakan dengan hati.
Dan isinya, nanti tolong dibaca juga kan banyak cerita-cerita lucu di dalam yang jarang. sekarang diceritakan di publik. Nah, kepada Tulang, ini hadiah dari Ibu, dari kami semua. Saya benar-benar ini kerjaan Ibu dan juga tim dari tim Pempas, makanya saya terima kasih juga.
Karena memang ini menggambarkan sebagian tentang siapakah Bapak Luhut Bin Sar Tanjaitan. Jadi dari kami, generasi, ya apa, banyak sekali keponakan-keponakan juga di sini. We're very proud of you. Karena memang banyak sekali nilai-nilai hidup yang diajarkan kepada kami.
Salah satunya mungkin saya akan ulang disini, bekerja dengan hati itu sangat penting. Jadi between your heart and your mind has to be one. akan menjadi optimal apa yang kalian akan kerjakan. Dan jangan lupa kita ini semua lahirnya beruntung.
Jadi jangan lupa belajar membagi. Kita harus belajar membagi dan terakhir kita harus belajar menjadi orang yang berguna. Nah itu yang diulang-ulang terus. Terima kasih. Mungkin kami baru benar-benar sadar apa sih artis.
Tapi terima kasih kepada Pak Luhut menjadi role model yang amat baik. Dan semoga kami bisa meneruskan cita-cita yang ada dari Pak Luhut Bin Sarwajaitan. Terima kasih. Sebelum kita kembali ke panggung karena pembicara utama kita ada di panggung. Dedy saya satu lagi saja karena penulisnya ada di sebelah saya.
Mas Norka boleh berdiri. Tadi apakah bab-bab ini ditulis juga dengan penuh ketegangan dan ketakutan juga? Ya, saya.
Ini sampai dengan terbit 30 bulan, sampai dengan terbit pada kemarin hari ulang tahun. Jadi menunggu Pak Luhut itu untuk wawancara di tengah COVID itu luar biasa. Jadi setiap kali janji ketemu batal, setiap kali batal Pak Luhut pergi ke sana, ke sini, ke luar negeri jadi deg-degan. Sepanjang menulis itu saya hampir putus asa dengan Bukar.
Ini jadi apa enggak, saya khawatir mudah-mudahan jadi. Tapi yang saya ingin katakan tentang Pak Luhut... Ini orang yang luar biasa, paripurna sebetulnya sebagai manusia di dunia ini. Pak Lohut, manusia yang dilahirkan dengan berkah, penuh berkah, dan memberikan berkah kepada banyak orang.
Satu lagi yang lelucon ini dari Ibu Ker, Pak Lohut sudah menduduki segala macam jabatan kementerian, kemenko, kecuali satu, PMK. Dan saya kira Pak Luhut di masa-masa akhirnya di dalam buku ini mengatakan konsentrasi kepada pendidikan, pendidikan dan teknologi, sains. Saya kira kenapa tidak kalau pada masa akhir ini Pak Luhut menjadi menko PNK. Karena terakhir diberikan jabatan untuk mengurus masalah wisata, wisata yang diberi sejumlah tempat.
Tapi kekurangan Pak Loh hanya satu, kebudayaan Pak. Karena itu menjadi menko PMK, saya kira kalau Bung Karo mengatakan beri saya 10 pemuda maka saya guncangkan dunia, kalau saya bilang beri aku satu luhut maka kebudayaan Indonesia akan luar biasa. Dan terakhir kemarin Annie Ernu sastrawan Perancis perempuan umur 82 tahun mendapatkan Nobel Sastra karena novelnya autobiografi.
biografi menjadi bagian yang dihargai dihormati dunia kebudayaan dan sastra sebagai bagian dari keisus sastra saya terima kasih bangga sekali dipercaya oleh Pak Luhut, Ibu Kartini terima kasih untuk segalanya, selamat Pak Luhut ya terima kasih banyak mungkin kita balik ke atas panggung kita kembali lagi ke atas panggung saya sama Deddy sudah dibawa lebih panjang daripada yang di atas soalnya kita harus kembali lagi ke sini karena kita mau kembali untuk paling tidak tidak kalimat pesan dan pamungkasnya ada di panggung ini. Saya kembali ke Pak Sintong dulu Pak Sintong. Ini buku adalah kado ulang tahun untuk Pak Luhut.
Nah buku ini hadir, apa harapannya untuk masyarakat Indonesia Pak Sintong? Ya memang kalau saya lihat sebetulnya bahwa Pak Nugut ini, saya belum pernah mendengar dari teman-teman saya kekurangan dari Pak Nugut ini dari sekerjanya. Itu yang paling enggak Pak. Dari kerja saya rasa tidak ada yang bisa mencelah Pak Nugut ini.
Itu satu yang luar biasa. Kedua, ya sedikit dulu saya tambahin dulu yang tadi. Ada juga saya lihat bagaimana Pak Luhuti ini berpikir.
Begitu ini, begitu kerencana dan begitu panjang. Dan mengambil keputusan yang tepat. Jadi ini sudah kembali lagi, sudah cerita lagi. Sebentar. Dulu, waktu...
Pak Habibie sebagai Presiden, saya sebagai Kepala Staf Kepresidenan, saya sedang lobang. Ternyata Kusdur minta tolong kepada Pak Luhut ini, saya ingat itu dengan Sekretarisnya Mariani, ini Pak Luhut. Dia ingin Gus Durini, selama ini Gus Durini berseperangan dengan Habibie. Gus Durini adalah orang yang kurang senang sama Izmi, Habibie adalah ketua Izmi.
Jadi mereka jarang bertemu. Satu waktu... Pak Luhut ini dan Pak Riani diminta bantuan oleh Gus Dur untuk menemui saya agar bisa mereka berkonsultasi dulu dengan Pak Habibie. Ketika saya dengarkan apa yang disuruh mereka, ini sangat-sangat bagus. Ini pemimpin formal, disana pemimpin non-formal.
Kenapa tidak? Akhirnya saya menghadap Habibie, Pak, ini ada keinginan gue sendiri itu menghadap Bapak. Langsung Pak Bibi berumur muka, tidak bisa Pak Sintong, ini kan sekarang saya terus terang aja udah lewat.
Tidak bisa Pak Sintong, nanti kata orang, kita ngomong A dan B nanti bisa C yang di luar. Jadi saya bilang sama Pak Bibi, Pak Bapak tidak boleh lagi seperti itu. Nah itulah hubungan saya dengan Pak Bibi itu sangat-sangat dekat.
Tidak boleh, pemimpin-pemimpin yang lama kalau dibenci tidak mau ketemu. Sekarang ini adalah reformasi. Jadi Bapak harus terimalah. Jangan kayak yang dulu lagi, sekarang sudah reformasi. Jadi kalau orang mau berasal dengan Bapak, saran saya ini Bapak harus terima.
Waktu itu sekretarisnya Jimli dan satu lagi sekretarisnya Izmi juga, ya mereka rapat, Pak Habibie, telepon saya, tidak Pak Sintong. Kalau nanti kita omong A, tetap biar keluar. Jadi itu yang menjadi kita hindari.
Terus saya jawab Pak Bibi, gampang Pak, kenapa harus empat mata? Bisa berarti 10 mata juga bisa. Berapa orang di sini dari Bapak, dari sana, dari mereka.
Sehingga semua menyaksikan pertemuan itu. Jadi sosok yang konsisten ya Pak Sintong ya, dan teguh dalam perkataan. Pak Sintong, terima kasih untuk pesannya tadi.
Saya ke Pak Budi Gunadisadikin, boleh Pak? Buku ini hadir juga untuk masyarakat. Tadi Pak Sintong sudah mengatakan betapa Pak Luhut itu juga konsisten.
konsisten dan teguh ya di depan orang dan integritasnya itu yang menjadi kunci. Pak Budi bagaimana harapan yang berkini hadir untuk masyarakat? Saya pernah diajak Pak Luhut beberapa kali ke Cina, di Cina itu ada pepatah yang bilang if your country want to be prosper in one year you grow great, if your country want to be prosper in ten years you grow trees, but if your country want to be prosper in more than hundred years you grow people.
Jadi aku sebagai masyarakat Indonesia mau minta tolong ke Pak Luhut diulang tahunnya yang ke-75. Pak Luhut jangan pernah berhenti untuk terus membangun, menciptakan Luhut-Luhut muda. Jangan puas dengan satu, jangan puas dengan sepuluh. Ciptakanlah seratus ribuan luntut muda yang selalu bekerja dengan hati, yang selalu bercita-cita tinggi, dan tidak pernah lelah mencintai negeri.
Terima kasih Pak Lutut. Terima kasih banyak. Pak Budi luar biasa, Pak Boy mungkin ada harapan-harapan terakhir untuk Pak Luhut kebetulan di peluncuran bukunya ini? Saya tahu Pak Luhut dalam beberapa kesempatan berkata kepada saya bahwa Beliau ini adalah tugas pengabdian beliau yang terakhir katanya untuk negara.
Karena beliau ingin mengurus yayasan setelah pensiun. Tapi mungkin saya appeal seperti Pak Budi, Pak Luhut jangan cepat-cepat pensiun dulu karena memang... Kami-kami yang muda-muda masih perlu contoh, perlu figur, perlu bimbingan dari Pak Luhut Binsar Panjaitan. Terima kasih banyak Pak Boy. Dan yang terakhir Pak Roky Gerung, ada kata-kata aman Pak?
Oke, saya selalu ditaruh di belakang, udah kayak ILC aja. Tapi saya senang karena ada pembicaraan yang kendati masih samar-samar, tapi kita tahu bahwa ada hal yang hendak dituntut untuk diteruskan melalui pikiran Luhut Bin Sar Panjaitan. Dalam beberapa bulan ke depan kita akan masuk pada suasana ketegangan politik karena tahun pemilu. Kalau ketegangan dalam keluarga diselesaikan dalam buku. Tapi kalau ketegangan politik kadang-kadang diselesaikan lewat amplop dan itu yang gak boleh.
Nah bagi saya Pak Luhut memberi semacam pedoman yang orang anggap sebagai berlebihan itu. Tapi memang itu faktanya tuh dengan segala macam jabatan. Saya mengusulkan...
Di semester terakhir kememirian Pak Jokowi ada semacam serius public lecture dari kabinet. Kabinet public lecture. Dan itu isinya mustinya ide, ide yang akan dititup. bagi mereka yang akan bertanding di 2024. Saya ingin lihat setiap bulan ada satu menteri kasih public lecture di depan civil society, di depan intelektual. Pak Lut bisa mulai bulan depan, ini lecture pertama, diikuti oleh Pak Mahfud, lecture kedua, diikuti oleh...
Pak Menkes, Pak Budi, lekser ketiga. Dikuti oleh Sandi, lekser keempat. Karena memang cuma ini kira-kira yang punya otak di kabinet itu. Yang lain gak ada di sini. Ibu?
Oke, itu nanti lekser penutup. Untuk buat kesimpulan. Pak Hadi, oke ya Tapi sekali lagi, saya senang karena terbuka kesempatan untuk bertengkar. Bangsa ini didirikan untuk bertengkar dalam pikiran.
Dengan memanfaatkan argumen, bukan dengan sentimen. Jadi itu saya kira yang dibuka lewat buku ini. Dan kita ingin supaya bangsa ini bergembira kembali karena kita kaya dengan pikiran. Terima kasih. Iya, terima kasih banyak.
Sekali lagi kita beri aplaus dulu untuk para pembalas pengulas buku ini, tapi kita jangan turun dulu karena kita ingin berfoto. Saya undang Pak Luhut Bin Sarpanjaitan, boleh Ibu Kartini Syahrir, dan Mas Tra, mewakili penerbit buku Kompas, dan tentunya penulis kita, Mas Norka, untuk boleh berfoto terlebih dahulu. Dan rasanya... Karena disini juga cukup banyak Bapak Ibu Menteri yang hadir, kami undang Pak Mahfud, Pak Menko Polkom untuk boleh ikut berfoto, Ibu Ida kami undang juga, Pak Sandiaga Uno, Ibu Hadi, kemudian juga Ibu Putri, dan juga Pak Darto.
Bapak? Ibu Doris? Pak Frankie, boleh Pak Frankie? Pak Frankie Wijaya, terima kasih sudah hadir.
Baik Bapak Ibu sekalian, sekali lagi kita sambut buku biografi Luhut Bin Sarpancaitan yang hari ini hadir dan diluncurkan. Terima kasih sekali lagi Bapak Ibu yang kami hormati sudah ikut berbagi buah pikiran. menyambut hadirnya buku ini dan tentunya banyak lagi kesan dan pesan yang sisi lain yang kita akan bisa ungkap dari hadirnya buku ini di tengah masyarakat.
Dan kami tentunya berterima kasih kehadiran Bapak Ibu. Terus kalian semuanya meluangkan waktu siang hari hingga sore hari ini untuk boleh ikut memeriahkan hadirnya buku yang juga menjadi bagian dari ulang tahun Bapak Luhut Bin Samadjaitan. Dan kayaknya pesan terakhir kalau dari tadi disimpulkan adalah Pak Luhut jangan pernah berhenti. Jangan pernah berhenti.
Jangan pernah berhenti. Terus menjadi inspirasi buat kita semua. Terus mudah terutama ya.
Masih mudah dan mudah-mudahan buku biografi ini bukan artinya udah selesai gitu tapi memulai perjalanan baru. Setuju. Dan tadi ya, udah pesan Pak Luhut ingin menulis nanti ya Betul sekali Sampai di akhir periode 2024 Kita nantikan buku tulisan Pak Luhut Binsar Pancahitan Saya Glory Oyo Saya Dedy Korpusier Kita pamit untuk diri ya Kita undur diri, terima kasih banyak Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Salam sejahtera buat kita semua Om Shanti, Shanti Shanti Om Namo Buddhaya, salam kebajikan Selamat sore dan sampai jumpa