Bismillahirrahmanirrahim Alhamdulillah Wa ashadu anna sayyidana Muhammadin abduhu wa rasuluhul muhtar Allahumma salli wa sallim wa barik ala sayyidina Muhammadin akhyaril akhyar wa ala alihi wa sahbihi wa zurriyatihi wa atba'ihi al-abrar amma ba'ad al-mukarramun wa al-muhtaramun ma'afsir al-habai'i wa al-ulama Wahid bin hadirin hadirat, rahimahkumullah Puji syukur selalu kita haturkan kehadirat Allah SWT atas limpahan taufik dan hidayah serta inayahnya kepada kita semua. Sehingga kita pada malam ini kembali dikumpulkan oleh Allah SWT di Masjid Bustanul Muhibbin yang penuh dengan berkah dan rahmat. Salawat dan salam kita haturkan pula kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW dan seluruh keluarga, para sahabat, zurriyat, dan pengikut beliau ila yawmul qiyamah Para muhibbin rahimakumullah al-ashir min asma'illah al-husna al-jabbar Yang kesepuluh daripada Asma'ul Husna adalah Al-Jabbar Qalallahu ta'ala fi kitabihil karim Wallahu lillahi la ilaha illa huwal malikul kuddusus salamul mu'minul muhaiminul azizul jabbar Yang artinya dialah Allah yang tiada Tuhan selain dia Yang maha raja, maha suci, maha selamat, maha mengamankan dan maha mengintai Maha mulia, aljabbar dan maha memaksa Aljabbar menurut Sebahagian para ulama Ma'na al-jabbar itu adalah Tuhan yang meluluskan Meluluskan kehendaknya atas jalan memaksa pada tiap-tiap sesuatu dan tidak bisa lulus pada Tuhan itu kehendak seseorang. Nah itu aljabar, artinya yang maha memaksakan kehendak. Dan tidak bisa sampai kepada Allah itu kehendak siapa juapun Yang terjadi itu adalah pasti merupakan kehendak daripada Allah SWT Maha memaksakan kehendak Al-Jabbar Di dalam asalul kudsi Allah subhanahu wa ta'ala berfirman Anta turid wa ana urid Wallahu yafa'alu ma yurid Artinya, engkau itu bisa berkehendak Engkau bisa berkehendak, itu ini, itu ini.
Dan aku pun bisa berkehendak. Dan hanya kehendak kujualah yang terjadi itu Para muhibbin hadirin hadirat yang dimuliakan Allah Jadi kehendak kita itu bisa terjadi Bisa sesuai dengan apa yang kita harapkan Apabila bersesuaian dengan kehendak Allah SWT Kalau hanya sebatas kehendak kita dan tidak sesuai dengan kehendak Allah bagaimanapun kita berjuang, bagaimanapun kita berusaha maka itu ujungnya adalah sia-sia ujungnya sia-sia banyak pelajaran Dari Allah SWT di dalam kitab suci Al-Quran Tentang pemahaman daripada nama Allah Al-Jabbar Salah satu diantaranya adalah Kisah Pir'aun Kisah Pir'aun Suatu malam Pir'aun ini bermimpi Ada seorang laki-laki yang akan lahir dan akan meruntuhkan kerajaan Piraun Dalam mimpinya itu, dalam mimpi Piraun itu akan ada anak yang lahir Yang dia itu anak nantinya meruntuhkan kerajaan Piraun Begitu Pir'aun bangun dari tidurnya, Pir'aun mengumpul menteri-menterinya. Dibikin satu perintah ke seluruh penjuru negeri Mesir. Mulai malam ini siapa ada yang melahirkan anak laki-laki dibunuh.
Nah ini kehendak Pir'aun untuk menjaga kelestarian kerajaannya. Jadi mulai hari itu siapapun ada perempuan di negeri Mesir yang melahirkan anak laki-laki itu dibunuh. Untuk menyelamatkan kerajaan, Pir'aun tadi. Jadi ada sana anak laki-laki lahir, dibunuh.
Ada di ujung negeri berita anak laki-laki lahir, dibunuh. Nah dengan ini Pir'aun berharap, berkehendak supaya kekuasaannya itu bisa terus menerus. Tetapi itu kehendak Pir'aun. Kehendaknya Pir'aun.
Tidak sesuai dengan kehendak Allah Ternyata Laki-laki yang menghancurkan kerajaan Piraun itu Justru laki-laki yang ada di istana Piraun itu sendiri Yang diasuh Piraun sejak kecil Yaitu Nabi Musa a.s Dikira orang jauh-jauh bakal menyerang Sekalinya orangnya diingun sudah di rumah Orangnya diingun, dijaga, dipelihara, dibesarkan Iya Nabi Musa alaihissalam Itu kehendak Allah Bagaimanapun kita matangnya satu program Hibatnya satu perencanaan Tapi kalau tidak sesuai dengan rencana Allah Itu akan sia-sia Akan tidak ada arti Pemerintahan-pemerintahan sedemikian rupa mengatur program-programnya Tapi kalau tidak sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah Akan berakhir sia-sia Nah inilah kalau Allah itu menampakkan namanya Al-Jabbar Maha memaksakan kehendaknya Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah Dalam Al-Quranul Karim dikisahkan lagi bagaimana rencana program saudara-saudara Nabi Yusuf alaihissalam untuk melenyapkan Nabi Yusuf. Nabi Yusuf dibawa dengan izin ayahnya sendiri untuk berburu. Sampai di hutan, Nabi Yusuf dimasukkan ke dalam sumur supaya mati.
Supaya mati. Begitu pulang ke rumah, Pertama saudara-saudara Nabi Yusuf ini melaporkan kepada ayahnya bahwa Nabi Yusuf dimakan serigala. Habislah cerita Nabi Yusuf, perkiraan dari saudara-saudaranya.
Ternyata apa yang terjadi, Nabi Yusuf diangkat dari sumur itu oleh seseorang dan dijual sampai ke negeri Mesir. Akhirnya Nabi Yusuf menjadi seorang raja Dan akhirnya saudara-saudara Nabi Yusuf yang berencana melenyapkan Nabi Yusuf tadi Mengemis kepada Nabi Yusuf minta bantuan makanan karena sedang terjadi kelaparan di tempatnya itu Nah ini rencana manusia Rencana manusia, kehendak-kehendak-kehendak manusia Apabila tidak sesuai dengan kehendak Allah, terjadilah demikian Al-Jabbar yang memaksakan kehendaknya Para muhibbin rahimakumullah Jadi Al-Jabbar itu Sebagian ulama lagi mengatakan Al-Jabbar itu dialah Tuhan Yang memaksakan makhluknya Atas menuruti kehendaknya Memaksakan kita agar menuruti kehendak Allah SWT Baik Islam, baik kafir Baik itu merupakan taat kepada Allah Atau maksiat kepada Allah Bilal bin Rabah Sahabat besar Nabi kita SAW Nah Bilal ini pada awal mulanya merupakan seorang budak, seorang hamba sahaya miliknya Umayyah bin Khalaf. Umayyah ini berkehendak agar Bilal ini jangan ikut, jangan beriman kepada Nabi Muhammad SAW. Dengan macam-macam cara, tuannya si Bilal ini dirayu, dibujuk, diancam, sampai disiksa.
Tetap Bilal mengatakan, tiada Tuhan selain Allah. Dan akhirnya Bilal diselamatkan oleh Abu Bakar Siddiq radiyallahu anhu dan menjadi seorang sahabat Rasulullah s.a.w. Nah ini kehendak Allah. Allah menghendaki Bilal ini orang Islam. Allah menghendaki Bilal ini orang yang mulia.
Bagaimanapun kehendak tuannya, tidak akan terjadi. Demikian cara. Dibujuk langsung, dibujuk pakai perantara, dirayu segala macam. Diancam bahkan hendak dibunuh. Keyakinan Bilal sedikit pun tidak berubah.
Kenapa sebabnya? Karena Allah telah menghendaki Bilal ini musliman, seorang muslim. Jadi rencana-rencana ini gagal, tutah. Kalau sudah tidak sesuai dengan rencana Allah, dengan kehendak Allah SWT.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah Yasir lagi contohnya dan istrinya Sumayyah ini orang-orang yang dikehendaki Allah Islam disiksa bahkan sampai dibunuh kedua-duanya sedikit pun tidak bergisir daripada iman Islamnya Yasir dibunuh Sumayyah istrinya pun dibunuh Muli Abu Jahal Tetap Tidak meninggalkan keislamannya Demikianlah kalau sudah Allah Menghendaki seseorang itu muslim Siapapun Tidak akan bisa menggudanya Siapapun tidak akan bisa Merusak imannya Karena Allah itu Al-Jabbar Allah Maha memaksakan Kehendaknya itu Nah para muhibbin Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah Al-mu'min bismillahirjabbar Kalau sudah kita beriman Dengan nama Allah Al-Jabbar Kita sudah percaya Bahwa Allah itu maha Memaksakan kehendak Adakah wadilah wani artinya Bukti-bukti menunjukkan Bukan bahwa kehendak manusia kadada berdaya apa-apa kalau sudah bertentangan dengan kehendaknya Allah. Nah kalau kita sudah beriman bahwa Allah itu Al-Jabbar maha memaksakan kehendak, nah bagaimana sikap perilaku orang yang beriman kepada Al-Jabbar itu? Oleh para ulama dijelaskan.
Orang yang beriman dengan Al-Jabbar itu ayyuhallika masyiatah ila masyiatillah ta'ala Dia selalu menggantungkan kehendaknya dengan kehendak Allah subhanahu wa ta'ala Selalu digantungkan, selalu diikat kehendaknya, rencananya dengan kehendak Allah SWT. Jadi bahasa kitanya itu, ba'insyaAllah. Tidak ada satu kehendak pun yang terlepas daripada insyaAllah.
Jam saat itu, kita berangkat, insyaAllah. Artinya apa? Jam saat 0 kita berangkat jika sesuai kehendak Allah. Soalnya kalau tidak sesuai kehendak Allah, tidak jadi berangkat. Hutang, kini aku bayari hari Ahad depan.
InsyaAllah. InsyaAllah. Jadi bila orang itu berinsyaAllah, Ini orang baikman nih, orang baikman al-jabbar nih.
Kalau dia baik insya Allah, bayar hutang untuk kena hari ahad. Jadi kita mesti percaya dengan orang yang mengucapkan kalimat insya Allah itu. Lebih percaya dari orang yang bepasti-pasti.
Bepasti. Bayarlah hutang kena hari ahad. Pasti jangan percaya.
Jangan percaya. Justru yang insya Allah itu yang kita yakin. Yang insya Allah itu yang kita yakin. Kalau pasti, ini sudah kali yakin lagi kita.
Karena orang ini sudah melangkahi. Melangkahi al-Jabbar. Yang maha memaksakan kehendaknya.
Rasulullah SAW diajarkan oleh Allah SWT. Jangan kau berkata bagi sesuatu bahwa besok aku lakukan. Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah.
Dalam asar kudusi pun disebutkan, Allah berfirman, anta turid wa ana urid. Pa'idya sallam ta li fi ma'urid, kafaituka fi ma'urid. Wa'illam tusallim li fi ma'urid, at'abtuka fi ma'urid, summa layakunu illa fi ma'urid. Ujar Tuhan, engkau berkehendak.
Isuk hendak ke pasar, isuk hendak ke situ, ke mari. Engkau berkehendak. Wa ana urid, aku pun berkehendak. Apabila engkau serahkan bagiku pada sesuatu yang aku kehendaki, Aku cukupkan engkau pada sesuatu yang kamu kehendaki itu. Artinya, bila kita serahkan kehendak kita ini kepada kehendak Allah, Allah kabulkan, Allah luluskan, Allah mudahkan apa kehendak kita itu.
Tetapi jika engkau tidak menyerahkan kepada aku pada apa yang aku kehendaki, engkau bersusah payah untuk mencapai yang kamu kehendaki, kemudian tidak akan terjadi, melainkan... Aku yang menghendakinya Jadi ini semacam petunjuk Kepada kita bahwa apabila Kita merencanakan sesuatu Kita kaitkan dengan Insya Allah Itu tanda keberhasilan Tanda Walaupun kita bicara dalam hati Walaupun dalam hati Walaupun surangan Dalam hati nih Isukkinani Anda ke pasar Maka pasarkin isu anak ke sini, anak ke situ, ke sini. Nah sambung insya Allah.
Kadang perlu ada orang. Kadang perlu ada orang. Dalam hati pun waktu kita merancang-merancang.
Rancang sesuatu, akhiri dengan insya Allah. Itu akan dimudahkan oleh Allah SWT. Apa yang kita rancang itu dimudahkan oleh Allah. Faitu kafi maqtul. Bila engkau menyerahkan kepada aku.
Pada apa yang aku kehendaki. Aku cukupkan engkau pada apa yang kau kehendaki. Jadi kita biasakan dalam kehidupan ini. Dalam sehari-hari kita.
Setiap kali kita berkehendak. Walaupun hanya dalam hati. Kada terucap kepada orang lain. Biasakan dalam hati pun.
Insya Allah. Insya Allah. Kadang-kadang kita bila ada orang hanya berinsya Allah.
Bila dalam hati kadang-kadang kita hanya berinsya Allah. Nah, esok kena pasok kesini, kesana, kesini, kesini, esok. Bisa.
Nah, bila lawan orang berjanji hanya berinsya Allah. Padahal yang sorangan itu yang lebih perlu. Setiap kali kita merancanakan apapun, kita insya Allah.
Insya Allah. Supaya ditolong oleh Allah SWT Nah itu sikap pertama yang ada pada diri orang yang beriman dengan Al-Jabbar itu Selalu mengaitkan kehendaknya dengan kehendak Allah SWT Kemudian yang kedua وَأَنْ يَكُنَا جَبَّارًا عَلَى نَبْسِهِ الْأَمَّارَةِ بِفِئْدَ الْخَيْرَةِ حَتَّى صَارَطْ مُتْمَئِنَّةٍ Yang kedua, orang yang beriman kepada nama Allah Al-Jabbar ini dia memaksakan kehendaknya atas nafsu ammarahnya dengan berbuat kebaikan sehingga nafsu ammarah itu menjadi nafsu yang mutma'inda. Kita paksakan kehendak kita untuk melawan kehendak-kehendak nafsu ammarah. Jadilah kita ini seorang aljabar terhadap nafsu amarah kita.
Sehingga nafsu amarah tidak sedikit pun bergerak, berkehendak, kecuali sesuai dengan kehendak kita. Nah ini sudah Al-Jabbar. Dia beriman kepada nama Allah Al-Jabbar. Yang memaksakan kehendak kepada makhluknya.
Maka kita pun bersikap memaksakan kehendak kita. Kepada nafsu amarah kita. Jangan sampai hidup ini sedikit pun.
Kita dikuasai. Didikti oleh nafsu amarah. Ini nafsu amarah handak mahasiat. Nah handak mahasiat. Kita beriman kepada al-Jabbar.
Jadilah kita al-Jabbar. Kita paksakan kehendak kita agar nafsu amarah yang hendak maasiyat ini jadikan jadi. Supaya jangan jadi.
Nafsu amarah nak meluluskan Hawa nafsunya Hendak meneruskan sahwatnya Kita gunakan aljabar ini Untuk menekan kehendak Memaksakan kehendak Kepada nafsu amarah Agar jangan sampai berbuat sesuatu Yang dilarang oleh Allah Allah Subhanahu wa ta'ala Nah ini Al-Jabbar Jadi orang yang beriman Kepada Al-Jabbar Itu orang yang bisa menaklukkan Napsu amarah Yang ada pada dirinya Selalu dia paksa napsu amarahnya Sampai akhirnya Menjadi napsu mutmainnah Napsu yang tenang yang diridai Oleh Allah Subhanahu wa ta'ala Kalau kata dipaksa kata khawal Napsu amarah ini Kalau kita dipaksa, kita akan bisa menjadi mutmainnah. Nah, yang ketiga, وَأَنْ يَكُونَ إِرَادَتُهُ الْخَيْرَاتِ مَمْبُوذَةً فِي عِيَالِ خَصَّةٍ وَفِي خَلْقِ اللَّهِ عَمَّةً Yang ketiga orang yang beriman kepada Al-Jabbar ini bahwa kehendaknya yang baik itu lulus terlaksana terutama pada anak istrinya keluarganya. Jadi orang beriman kepada Al-Jabbar ini, apa-apa yang kehendaknya yang baik itu selalu bisa meluluskan kepada keluarganya, terutama anak istrinya. Ini menghendaki anaknya supaya sembahyang. Sembahyang.
Nah anaknya mau ke demau, sembahyang. Ini menghendaki bahwa bininya ini harus jadi orang yang bagus. Nah dia paksa.
memaksakan kehendaknya agar bininya jadi orang yang bagus nah itu bukti keimanan kepada Al-Jabbar tadi nah jadi setidak-tidaknya ada tiga sikap perilaku kalau kita beriman kepada nama Allah Al-Jabbar yang maha memaksakan kehendak itu Satu, kita gantungkan kehendak kita kepada kehendak Allah. Artinya jangan lupa apapun yang kita angankan, yang kita rencanakan, yang kita atur, mesti dikaitkan dengan insya Allah. Yang kedua kita mesti bisa memaksakan kehendak kita kepada nafsu amarah Agar dia menjadi nafsu yang mutmainnah Yang ketiga sikap orang yang beriman kepada aljabar Apa-apa kehendaknya yang baik dalam keluarganya itu terlaksana Apa-apa tujuan baik terhadap anaknya istrinya terlaksana Ada akan gagal Nah demikian cara bagaimana cara supaya kehendaknya yang baik terhadap Terhadap bininya, anaknya terjadi. Jangan sampai gagal. Nah tiga sikap itu didapat oleh orang yang sudah beriman kepada nama Allah.
Al-Jabbar itu. Hadirnya hadirat yang dimuliakan Allah mudah-mudahan Allah mudah. Untuk beriman kepada nama Allah Al-Jabbar Dan mendapatkan buah dari keimanan tersebut Amin Ya Rabbal Alamin Nihil hadratin Nabi S.A.W Al-Fatiha Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh wa muslimat wa al-mumin la ilaha illallah ya ayyuhu min umar al-amu'ad Allahumma yukhayyuma sa'alaqa abduka nabiuka Muhammadin sallallahu alaihi wasallam Sayyidu wassajaka abduka nabiuka Muhammadin sallallahu alaihi wasallam wa antan musta'an wa ila karbalaq wa la hawla wa la quwwata illa billahi al-rajim Allahumma rabbana ablana mina zuwazina wa zurriyatina quwwata ayyuhu wa ja'na lihtakina imamah Allahumma inna usruwa as-sudah wa at-tuqa wa al-afawra wina Rabbana Tuhan ina kanta suma-tuba laina ina kanta tawaburahim banaatina fid dunia sana wa fil hati asrata wa kina azabannak sallallahu alaihi wa sallim wa rahmatullahi wa barakatuh wa rahmatullahi wa barakatuh ya iya rajuna minhu shafa'atan wa sallu alaih wa sallimu taslima Allahumma salli wa sallim wa barik alaih Bismillahirrah