Transcript for:
Analisis Kelayakan Usaha dan BEP

Intro Hai, jumpa lagi dengan saya Edu Kali ini kita akan membahas materi menganalis kelayakan usaha Untuk materi pokok yang akan kita bahas adalah analisa BEP atau Break Even Point Oke, kita mulai ya. Dalam sebuah usaha atau bisnis, di dalam memproduksi barang atau jasa, tentu memiliki harapan untuk mendapatkan keuntungan. Jika seseorang membuka sebuah usaha, dan usaha tersebut akan dinyatakan layak apabila...

bisa mendapatkan keuntungan yang dapat digunakan untuk pengembangan usaha dan untuk pembayaran atas usaha tersebut. Untuk mengetahui kelayakan sebuah usaha, maka dilakukan suatu analisis yang disebut analisis kelayakan usaha. Ada beberapa analisis yang dipakai dalam menganalisa kelayakan sebuah usaha, antara lain adalah BEP atau Break Even Point. Selain itu ada Revenue and Cost Ratio atau RC Ratio, dan Benefit Per Cost Ratio atau BC Ratio. Apa itu Break-Even Point atau BEP?

Beberapa ahli menyampaikan pengertian BEP sebagai berikut. Yang pertama, menurut Bambang Rianto, analisa break-even adalah suatu teknik analisa untuk mengetahui hubungan antara biaya tetap, biaya variable, keuntungan, dan volume kegiatan. Yang kedua, menurut Kasmir, Analisis titik impas adalah suatu keadaan di mana perusahaan beroperasi dalam kondisi tidak memperoleh pendapatan atau laba dan tidak pula menderita kerugian. Artinya, dalam kondisi ini jumlah pendapatan yang diterima sama dengan jumlah biaya yang dikeluarkan. Sedangkan yang ketiga, menurut Susan Irawati, Break-even analysis merupakan teknik analisis yang mempelajari bagaimana pengaruh dari volume produksi atau volume penjualan yang berubah terhadap struktur biaya tetap dan biaya variable, serta tingkat hasil penjualan, sehingga pada akhirnya memiliki pengaruh terhadap tingkat rugi atau laba.

Jadi, analisa breakeven point atau BEP dapat diartikan sebagai suatu titik atau keadaan di mana perusahaan di dalam operasinya tidak memperoleh keuntungan dan tidak mengalami kerugian. Dengan kata lain, pada keadaan tersebut di mana pendapatan sama dengan modal yang dikeluarkan. Maka perusahaan tidak mengalami keuntungan atau kerugian, atau yang sering dinamakan dengan impas. Teknik dalam analisa BEP, yaitu untuk mempelajari hubungan antara biaya tetap, biaya variable, keuntungan dan volume aktivitas, atau sering juga disebut Cost Profit Volume Analysis, atau yang disingkat JPV Analysis.

Total keuntungan dan kerugian yang pada posisi 0, titik break even point dapat terjadi bila perusahaan dalam operasinya menggunakan biaya tetap dan volume penjualan hanya cukup untuk menutup biaya tetap dan biaya variable. Akan berbeda apabila penjualan hanya cukup untuk menutupi biaya variable dan sebagian biaya tetap, maka perusahaan akan menderita kerugian. Demikian juga sebaliknya, perusahaan akan memperoleh keuntungan bila penjualan melebihi biaya variable dan biaya tetap yang tersebut.

yang harus dikeluarkan. Analisis break-even sering digunakan dalam hal yang lain, misalnya dalam analisis laporan keuangan, yaitu untuk mengetahui yang pertama, hubungan antara penjualan, biaya, dan laba. Yang kedua, struktur biaya tetap dan biaya variable.

Ketiga, kemampuan perusahaan memberikan margin untuk menutupi biaya tetap. Yang keempat, kemampuan perusahaan dalam menekan biaya dan menekan biaya. dan batas di mana perusahaan tidak mengalami laba dan rugi, atau dikatakan impas.

Dengan adanya analisis break-even point atau titik impas tersebut, akan sangat membantu perusahaan dalam perencanaan keuangan, penjualan, dan produksi, sehingga perusahaan dapat mengambil keputusan untuk meminimalkan kerugian dan melakukan prediksi keuntungan yang diharapkan melalui penentuan sebagai berikut. Yang pertama, harga jual persatuan. Kedua, roda. produksi minimal, yang ketiga, mendesain produk dan lain-lain.

Ada beberapa hal yang perlu diketahui supaya dalam menentukan titik impas tersebut, dapat ditentukan dengan tepat antara lain ada sebagai berikut. Yang pertama, tingkat laba yang ingin dicapai dalam suatu periode. Kedua, kapasitas produksi yang tersedia.

atau yang mungkin dapat ditingkatkan. Sedangkan yang ketiga, besarnya biaya yang harus dikeluarkan mencangkup biaya tetap maupun biaya variable. Analisis break-even point secara umum dapat memberikan informasi kepada perusahaan pada pola hubungan antara volume penjualan, cost atau biaya, dan tingkat keuntungan yang akan diperoleh pada level penjualan tertentu. Maka, analisis breakeven dapat membantu perusahaan dalam mengambil keputusan mengenai hal-hal sebagai berikut.

Yang pertama, jumlah penjualan minimal yang harus dipertahankan agar perusahaan tidak mengalami kerugian. Kedua, jumlah penjualan yang harus dicapai untuk memperoleh keuntungan tertentu. Ketiga, seberapa jauh berkurangnya penjualan agar perusahaan tidak mengalami kerugian.

Sedangkan yang keempat, untuk mengetahui efek perubahan harga jual, biaya dan volume penjualan terhadap keuntungan yang diperoleh. Berikutnya adalah konsep-konsep yang mendasari sebagai asumsi dasar perhitungan BIP yang dikemukakan oleh Susan Irawati dalam bukunya yang berjudul Manajemen Keuangan adalah sebagai berikut. Yang pertama, biaya yang terjadi dalam suatu perusahaan harus digolongkan ke dalam biaya tetap dan biaya variable.

Kedua, biaya variable yang secara total berubah sesuai dengan perubahan volume. Terima kasih. sedangkan biaya tetap tidak mengalami perubahan secara total.

Yang ketiga, jumlah biaya tetap tidak berubah walaupun ada perubahan kegiatan, sedangkan biaya tetap per unit akan berubah-ubah. Keempat, harga jual per unit konstan selama periode dianalisis. Kelima, jumlah produk yang diproduksi dianggap selalu habis terjual.

Sedangkan yang keenam, perusahaan menjual dan membuat satu jenis produk. Bila perusahaan membuat atau menjual produk, jual lebih dari satu jenis produk, maka perimbangan hasil penjualan setiap produk tetap. Perhitungan BEP pada perusahaan mempunyai tujuan dan kegunaan. Beberapa tujuan menurut para ahli adalah sebagai berikut.

Menurut Susan Irawati, tujuan dari analisis break-even point adalah sebagai berikut. Yang pertama, untuk menentukan berapa tingkat penjualan yang harus dicapai jika perusahaan ingin mendapatkan laba. Yang kedua, untuk membantu menganalisis reaksi.

rencana untuk modernisasi atau otomatisasi untuk mengganti biaya variable menjadi biaya tetap. Ketiga, untuk membantu menganalisis pengaruh-pengaruh dari ekspansi terhadap tingkat operasi atau kegiatan. Yang keempat, untuk membantu dalam keputusan mengenai produk baru dalam hal biaya dan hasil penjualan.

Sedangkan menurut KASMIR, kegunaan dari BEP adalah sebagai berikut. Yang pertama, mendesain spesifikasi produk kedua menentukan harga jual persatuan ketiga menentukan jumlah produksi atau penjualan minimal agar tidak mengalami kerugian keempat memaksimalkan jumlah produksi sedangkan yang kelima merencanakan tujuan yang diinginkan dan tujuan lainnya break-even analysis merupakan dasar dari seluruh metode break-even fungsi break-even analysis untuk mengetahui volume penjualan akan menghasilkan keuntungan atau kerugian. Ada tiga manfaat yang menjadi dasar break-even analysis, yaitu, yang pertama, memberikan informasi banyaknya investasi yang dibutuhkan agar dapat mengimbangi pengeluaran awal.

Kedua, memberikan margin sebagai langkah pembatas supaya tidak mengalami kerugian. Yang ketiga, digunakan secara luas, baik dalam analisa jual-beli saham dan menganalisa budget dari pemerintah. berbagai macam proyek yang dilakukan perusahaan. Selain ketiga manfaat break-even analysis, ada empat konsep penggunaan break-even analysis yang harus diketahui.

Yang pertama, fixed cost atau biaya tetap. Artinya, biaya tetap atau tidak berubah meskipun volume produksi berubah. Kedua, variable cost atau biaya variable. Artinya, biaya berubah-rubah sesuai dengan perubahan volume produksi. Ketiga, penghasilan atau revenue, merupakan jumlah pendapatan yang diterima oleh penjual barang.

Yang keempat, laba atau profit, merupakan sisa penghasilan setelah dikurangi biaya tetap dan biaya variable. Selanjutnya adalah perhitungan break-even point. Ada dua cara perhitungan break-even point, yaitu atas dasar unit dan atas dasar rupiah. Perhitungan break-even point atas dasar unit dapat dilakukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut. BEP dalam unit atau key sama dengan FC dibagi P dikurangi VC, di mana P adalah harga jual per unit, VC adalah biaya variable per unit, FC adalah biaya tetap, sedangkan key adalah jumlah unit atau kuantitas.

Selisih dari pengurangan unit, Kurangan harga jual per unit dan biaya variable per unit adalah rumus dari margin kontribusi. Cara ini dapat digunakan untuk mengetahui titik di mana jumlah beban setara dengan jumlah biaya dan jumlah unit yang dikeluarkan. Untuk perhitungannya adalah BEP sama dengan biaya tetap dibagi margin kontribusi per unit. Adapun perhitungan break-even point atas dasar rupiah atau dalam nilai mata uang dapat dilakukan dengan menggunakan rumus sebuah sebagai berikut. BEP rupiah sama dengan FC dibagi 1 dikurangi VC dibagi P, di mana P adalah harga jual per unit, VC adalah biaya variable per unit, FC adalah biaya tetap atau dapat dilakukan dengan perhitungan sebagai berikut BEP dalam rupiah sama dengan BEP dalam unit dikali harga jual per unit Berikut ini Edu akan memberikan contoh perhitungan BEP dalam sebuah kegiatan usaha sebagai berikut Edu membuka sebuah usaha fotokopi Biaya-biaya yang dikeluarkan antara lain Biaya sewa lokasi Biaya renovasi tempat BEP Biaya sewa mesin fotokopi sebesar 20 juta rupiah.

Harga jual per lembar atau per unit hasil fotokopi tersebut adalah sebesar 300 rupiah. Sedangkan biaya variable per unit seperti kertas, listrik, dan lain-lain dengan total biaya tersebut adalah sebesar 200 rupiah. Berapa BEP dari usaha fotokopi tersebut dan buatlah kurva BEP-nya?

Jawabannya adalah sebagai berikut. Berikut. BEP dalam unit sama dengan FC dibagi P dikurangi VC. Untuk biaya tetap sebesar 20 juta rupiah dibagi dengan harga sebesar 300 rupiah dikurangi biaya variable sebesar 200 rupiah. Hasil dari BEP dalam unit yaitu sebesar 200 ribu unit.

Maka usaha fotokopi tersebut akan mencapai titik impas atau BEP apabila berhasil menjual 200 ribu unit atau 200 ribu unit. 200 ribu lembar hasil fotokopi. Sedangkan untuk menghitung dan mengetahui BEP dalam rupiah adalah sebagai berikut. BEP dalam rupiah sama dengan BEP dalam unit dikali harga jual per unit. Untuk BEP yang dicapai dalam unit yaitu sebesar 200 ribu unit dikali dengan harga jual per unit sebesar 300 rupiah.

Hasil BEP dalam rupiah adalah sebesar 60 juta rupiah. Jadi usaha fotokopi fotokopi tersebut akan mencapai titik impas BEP dalam rupiah atau dalam nilai mata uang, bila total penjualannya sudah mencapai sebesar 60 juta rupiah. Jika kita gambarkan kurva BEP, maka akan didapat kurva sebagai berikut.

Dari soal tersebut, akan dapat diambil kesimpulan bahwa FC atau V-Cost atau yang disebut dengan biaya tetap sebesar 20 juta rupiah dengan kurva berbentuk garis lurus mendatar ke arah kanan. Sedangkan BEP unit yang didapat pada penjualan sebanyak 200 ribu unit atau 200 ribu lembar dan untuk BEP rupiah akan dicapai pada saat memperoleh pemasukan sebanyak 60 juta rupiah maka dari kedua BEP unit dan BEP rupiah tersebut akan didapat kurva TR atau total revenue yang disebut juga sebagai total pendapatan yang akan dimulai dari titik 0 ke arah titik BEP dan TC atau total cost atau biaya total yang dimulai dari titik FC ke arah titik BEP. Dari pertemuan kedua garis pada kurva tersebut adalah titik BEP atau titik impas. Untuk area berwarna merah adalah area rugi, sedangkan area pada warna hijau adalah area laba.

Nah, itulah cara menghitung breakeven point atas dasar nilai mata uang dalam hal ini adalah rupiah dan atas dasar unit dalam suara. Untuk materi-materi yang lain, akan Idu sampaikan pada video berikutnya. Sampai jumpa!